Strategi dan Kebijakan Alternatif Menuju Swasembada Daging Sapi 2014 (Bagian I)

Livestockreview.com, Kampus. Tidak bisa kita pungkiri, zaman akan selalu mengalami perubahan. Baik gaya hidup, pola komunikasi maupun cara pandang terhadap sesuatu. Bahkan tidak terkecuali pada pola konsumsi khususnya masyarakat negeri ini. Salah satu indikator yang bisa kita lihat yaitu konsumsi daging sapi yang secara bertahap terus mengalami kenaikan. Dari data dirjen peternakan 2010 dapat kita lihat konsumsi daging sapi kita hanya 1,69 kg/kapita/tahun, kemudian berangsur naik menjadi 2,09 kg/kapita/tahun pada tahun 2012.

Tentu hal di atas menjadi salah satu peluang besar terutama bagi insan yang berkecimpung di bidang peternakan, dari hulu sampai hilir. 2,09 kg jika kita kalikan 250 juta maka akan kita dapatkan angka lebih kurang 522.550 ton daging. Maka artinya itu jumlah daging yang harus kita sediakan setiap tahunnya. Tentu ini menjadi gambaran kecil betapa menggiurkannya bisnis di bidang peternakan.

Lebih jauh kita lihat ternyata dari kebutuhan daging nasional tidak sepenuhnya bisa dipasok dari hasil peternakan dalam negeri, artinya sebagiannya lagi dipenuhi dengan jalan importasi. Menurut (Ditjenak, 2008) kebutuhan daging sapi nasional karena baru mampu memproduksi 70% dari kebutuhan daging sapi nasional dimana 30% kebutuhan lainnya dipenuhi melalui impor, walaupun data BPS 2013 menunjukan angka ini mulai berangsur turun hingga sekitar 17% saja, akan tetapi tetap saja kita masih belum bisa berdaulat dalam jenis pangan yang satu ini.

Melihat kondisi ini, maka sekiranya perlu kebijakan baru yang benar-benar bisa mensukseskan progran kedaulatan pangan jenis daging sapi yang bertajuk Swasembada Daging Sapi dan Kerbau 2014. (BERSAMBUNG)

Ajat Santoso, Surya Primadi, dan Deni Setiadi, Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM
Penyaji Terbaik pada Call For Policy Paper dalam Temu Ilmiah Mahasiswa Peternakan Indonesia oleh ISMAPETI, di Bengkulu, 7-12 Nopember2013 \ editor: sitoresmi fauzi

follow our twitter: @livestockreview

 

Leave a Reply