Menguak Problematika Pengembangan Telur Asin Brebes

Livestockreview.com, Produk Olahan. Telur asin jadi buah tangan dan diplomasi budaya kuliner dalam mempromosikan potensi Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Ini menjadi peluang tiap tahun, pemudik atau warga perantau asal Brebes, membeli oleh-oleh telur asin. Data Dinas Peternakan 2010 menyebutkan, di kabupaten itu sedikitnya ada 650 peternak itik, tergabung dalam 25 kelompok tani, tersebar di 11 dari 18 kecamatan.

Populasi bebek 612.000 ekor dengan produksi telur sekitar 5,2 juta butir per bulan. Tahun 2013 produksi telur 6 juta butir per bulan. Permintaan pasar akan telur itik mencapai 10 juta butir per bulan. Kekurangan itu dipasok dari beberapa wilayah seperti Tegal, Cilacap, Indramayu, Cirebon, dan Mojokerto.

’’Sektor’’ telur asin menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bagi Kabupaten Brebes 4,1%. Yang mengkhawatirkan ketika produksi telur meningkat, populasi bebek justru menurun. tahun 2010 ada 612.000 ekor bebek, tahun 2013 menyusut jadi 569.000 ekor. Bukan tanpa sebab penurunan populasi tersebut.

Pertama; karena wabah flu burung. Kedua; belum maksimalnya pembudidayaan dan pengembangbiakkan itik petelur. Padahal data 2013 menyebutkan ada penambahan dari 650 menjadi 1.500 peternakan itik petelur. Persoalannya, hasil pembibitan itik petelur kalah cepat dari tingkat kebutuhan telur. Padahal fase produksi telor bagi itik petelur berkisar 1-1 tahun 6 bulan.

Selebihnya itik-itik itu diklasifikasikan afkiran. Selain itu ada itik majir, yaitu yang sudah tidak bisa lagi bertelur atau tidak produktif. Dua jenis itik itu biasanya dijual untuk dikonsumsi.

sumber: wijanarto, pegawai dinas pariwisata kabupaten brebes (su4ra) | editor: soeparno

follow our twitter: @livestockreview

Spread the love

Leave a Reply