Catatan dari Program Magang Peternakan di Australia

Livestockreview.com, Kampus. Menyeberang lautan untuk berlibur ke Bali sudah biasa. Berbeda cerita ketika saya dan 14 mahasiswa peternakan Indonesia lain, menyeberang lautan untuk belajar di negeri orang. Hari di mana kami selalu membawa bendera Cattle Buffalo Club, bendera Universitas Padjadjaran, Brawijaya, Mataram, Gajah Mada, dan Institut Pertanian Bogor, serta tentunya Sang Merah Putih.Kami melakukan intensive cattle work training di Charles Darwin University, Katherine Rural Campus, Northern Territory, Australia, sebelum melaksanakan magang di Cattle Station selama 6 minggu. Di akhir program juga akan ada intensive animal welfare training selama beberapa hari di Katherine Research Center.

Mengendarai kuda, motor, dan mobil bukan hanya digunakan untuk berjalan menyusuri luasnya Australia dan melihat kangguru melintasi jalanan. Semua kendaraan itu seakan menjadi pengganti tali tambang yang biasa kami gunakan untuk mengarahkan sapi ke tempat yang kami inginkan.

Bukan merasa paling berani ketika kami diajarkan untuk tidak mengenal rasa takut. Namun karena kami juga dilatih bagaimana caranya melakukan semua pekerjaan di cattle station dengan mengutamakan keselamatan pekerja. Personal protective equipment, occupational health & safety, dan semua sign yang disimpan untuk memperingati kita sudah cukup melindungi kami dari rasa takut.

Setelah semua training selesai, saya dan Izmi (Fapet UB) memiliki pengalaman yang berbeda dengan yang lain. Kami harus bekerja di berbagai station, seperti Cave Creek, Mataranka, Sturt Downs, dan Pigeon Hole Station. Bahkan kami sempat dibawa ke tempat pembuatan pakan pellet/cube yang biasa digunakan pada saat ekspor di dalam Livestock Vessel.

Pengalaman tak terlupakan di cattle station

Cattle Station, tempat di mana kami bisa menemukan ribuan sapi yang digembalakan di jutaan hektar lahan datar yang dipenuhi oleh rumput, pepohonan, dan berbagai hewan liar lainnya. Setiap hari bekerja ketika masih gelap sampai hari menjadi gelap. Matahari setia menemani para pekerja, menerangi harapan orang-orang yang hidup dari semua sapi yang mereka pelihara dengan kasih sayang. Jangan pernah berpikir ada ratusan orang pekerja. Pigeon Hole memiliki luas lahan 1,8 juta hektar yang dipenuhi oleh sekitar 23.000 sapi. Station ini memiliki 15 orang pekerja, 2 anak kecil, dan 2 peserta magang saja.

Semua pekerjaan di station memberikan kisah tersendiri yang membuat kami terus mengingatnya. Ketika mustering, kami harus mencari sapi-sapi di salah satu paddock (padang penggembalaan) untuk kemudian kami pindahkan ke yard (tempat memberikan treatment khusus untuk ternak). Terkadang kami harus mengendarai kuda untuk mengarahkan mereka. Bahkan kami juga hanya tinggal duduk manis di dalam mobil, melihat working dogs mengerjakan semua hal yang biasa kami kerjakan. Tak jarang juga ada helikopter yang disewa 350 AUD/jam untuk membantu pekerjaan yang tidak mudah dan harus penuh dengan kesabaran ini.

Ketika bekerja di yard, kami harus mengusap muka dari debu yang dihasilkan dari gertakan ribuan sapi yang berada disana. Branding, dehorning, castrating (hanya untuk jantan), dan ear tag/marking harus diberikan kepada setiap sapi yang baru saja lepas sapih dari induknya. Jika hari penjualan tiba, maka kami pindahkan sapi-sapi itu ke dalam Road Train. Truk yang mampu mengait 4 tralier panjang yang bisa diisi oleh ratusan sapi yang kemudian dikirim ke dock untuk Live export.

Dimana ada pekerjaan, di sana ada gangguan. Jika terlalu banyak gulma memenuhi lahan paddock station, maka kami harus membakarnya atau memberikan herbisida dengan harapan semua itu akan hilang. Selain tanaman pengganggu, hewan pun tidak mau kalah. Maka dari itu setiap pemilik dan pekerja station harus ahli dalam menggunakan senapan rifle. Anjing-anjing liar (dingo) selalu mencoba memangsa pedet, dan ada juga buffalo yang selalu merusak fence. Keduanya memang target paling dicari.

Tidak ada yang tidak mungkin. Itulah motto orang-orang yang bekerja di cattle station. Rumput yang tumbuh baik sebagai pakan sapi hanya memiliki protein 4%, seperti Jarra grass. Tambahannya adalah legume dengan protein 10%, seperti cavalcade. Mereka berpikir dan bekerja keras untuk terus menutupi kekurangan gizi tersebut. Hingga akhirnya penggunaan suplemen dengan kandungan Urea 10-30% bisa membuat sapi-sapi di sini disebarkan ke berbagai Negara di Asia bahkan Timur Tengah.

Jika semua pekerjaan selesai, bar yang khusus disediakan untuk menikmati malam yang selalu dipenuhi oleh bintang-bintang akan selalu menghangatkan suasana tempat yang jauh dari kebisingan ini. Tidak terlihat sedikit pun wajah lelah. Hanya ada keceriaan yang semakin membuat mereka terikat bagai keluarga.

Keceriaan selesai pekerjaan

Bangun pagi itu hal biasa, namun bekerja tepat waktu, penuh integritas, dan tidak mengeluh itulah hal yang membuat mereka tetap bertahan hidup. Saya sadari perbedaan peternak Australia dan Indonesia. Namun bukan saatnya membandingkan. Pada saat semua peternak, mahasiswa, dan pemerintah bahu membahu mengembangkan apa yang harus dikembangkan, maka Swasembada Daging Sapi sudah bukan wacana lagi. Seperti yang sudah saya tunjukkan di atas. “Nothing is impossible”. Artikel saya bukan untuk mendorong investasi Indonesia di Negeri Kangguru, namun justru membuat Australia di Negara kita tercinta.

penulis : irvan prasetya, cattle buffalo club, universitas padjadjaran, bandung  | editor: soeparno

follow our twitter: @livestockreview

Spread the love

Leave a Reply