Kasus Kematian Babi Sumatera Utara (III): Waspadai Pola Penularannya

Livestockreview.com, Referensi. Virus Demam Babi Afrika (DBA) saat menginfeksi tubuh babi membawa kompleksitas sendiri, membuat vaksin tidak efektif. Virus DBA banyak menginfeksi sel darah merah (RBC) dan sel darah putih. Selain itu penularan virus DBA membutuhkan perantara dan paling sedikit ada empat model penularan virus DBA.

Pertama model sylvatic, penularan virus dari babi liar yang berkeliaran, memuntahkan remah-remah dari mulutnya, dikonsumsi oleh caplak (tick) sehingga virus DBA berada di dalam tubuh caplak.

Ektoparasit yang banyak dijumpai membawa virus ini adalah Ornithodoros spp. Jika suatu daerah banyak terdapat parasit ini, ada peluang recevoir virus DBA. Virus ini tidak menginfeksi caplak, hanya sebagai perantara.Kehadiran ahli parasit (parasitolog) terutama ektoparasit, dibutuhkan untuk memantau keberadaan dan sifat ektoparasit yang ada di sekitar peternakan babi.

Selanjutnya model kedua, penularan virus DBA dari caplak ke ternak babi (domestik). Model ketiga, melalui babi yang mati kemudian dibuang ke aliran sungai, sehingga membuka peluang dikonsumsi babi liar/hutan. Terakhir model ke empat yaitu tetelan atau bangkai yang dibuang sembarangan, akan memberi peluang virus DBA tersebut bertambah mata rantainya. Pembuangan bangkai ke sungai sangat tidak dianjurkan, karena tidak memutus mata rantai bahkan bisa menimbulkan genotipe baru. (BERSAMBUNG)

follow our ig: www.instagram.com/livestockreview

penulis: c.a nidom, guru besar fkh unair, surabaya | sumber: kompas





Spread the love

Leave a Reply