Kasus Kematian Babi Sumatera Utara (II): Ketahui Penyebabnya

Livestockreview.com, referensi. Penyebab demam berdarah babi minimal dua macam, yaitu virus demam babi klasik (DBK) atau hog kholera dan demam babi afrika (ASF). Virus DBK adalah virus RNA dari famili Flaviviridae dan genus Pestivirus, hanya menginfeksi babi dan infeksius (menular). Terhadap aspek klinis, virus DBK ini bisa bersifat akut, kronis dan kongenital dari induk, tergantung kondisi babi dan keganasan virus.

Gejala infeksi akut, terlihat adanya luka hemoragik (perdarahan) pada kulit, demam tinggi, konjungtivitis, kejang-kejang dan kematian sampai 100%. Ini terjadi setelah 1-3 minggu inkubasi. Gejala infeksi kronis ditandai diare dan keterlambatan pertumbuhan. Kematian lebih rendah dari infeksi akut, kecuali ada infeksi campuran kuman lainnya. Penyakit ini pandemis di seluruh dunia, di Indonesia sudah endemis. Virus DBK bahkan menyebabkan kematian 10 ribu ekor babi di Flores, 2018.

Agar virus DBK tidak menyebar, perlu pelarangan lalu lintas hewan dan produknya dari daerah wabah ke non-wabah; menghindari kontak langsung dan tidak langsung dengan faktor penular hewan dan manusia: serta vaksinasi.

Penyebab demam berdarah babi lain adalah virus demam babi afrika (DBA). Berbeda dengan virus DBK, virus DBA merupakan virus DNA utas ganda, genom sepanjang 170–194 kilobase (kb), tubuh dibungkus lemak. Keragaman (genotip) virus DBA tidak kurang dari 30 genotipe. Belum lagi dari serotipenya.

Virus ini anggota genus Asfivirus dan kelas asfarviridae. Virus ini bisa menimbulkan demam berdarah, bukan hanya pada babi peliharaan, tetapi juga babi liar. Bisa menimbulkan kematian yang tinggi dan sangat cepat.

Penyakit dan virus DBA pertama kali diisolasi oleh Montgomery, ilmuwan di Kenya, 1921. Tahun 1960 terjadi wabah di Eropa dan Amerika Selatan, tahun 2007 di Georgia (Uni Soviet) dan kemudian menyebar ke negara tetangga: China dan negara Asia lain.

Tahun 2018 dilaporkan wabah DBA di China. Awal Januari 2019 menyebar ke peternakan rakyat di Vietnam dan Mongolia. Virus DBA sudah ada di Kamboja 2 April 2019 dan di Korea Utara 23 Mei 2019. Negara Laos juga didatangi virus DBA pada 20 Juni 2019. Pertengahan Juli 2019 dikabarkan di Filipina, Myanmar 1 Agustus 2019, dan terakhir Timur Leste pada 29 September 2019.

Infeksi bisa terjadi berulang. Di beberapa negara secara periodik wabah ini kembali, meskipun cara eradikasinya sangat baik, memusnahkan babi yang sakit, sanitasi, biosekuriti, dan karantina. Virus DBA Vietnam yang berhasil diisiolasi, setelah dianalisis kekerabatannya ternyata termasuk genotip II seperti yang terjadi pada wabah Georgia (2007) dan China (2018). (BERSAMBUNG)

follow our ig: www.instagram.com/livestockreview

penulis: c.a nidom, guru besar fkh unair, surabaya | sumber: kompas





Spread the love

Leave a Reply