Kaligesing, Sentra Kambing Peranakan Ettawa

Livestockrview.comn, Referensi. Kaligesing adalah nama kecamatan di daerah Purworejo Jawa Tengah yang identik dengan peternakan kambing peranakan ettawa (PE). Ternak non ruminansia ini telah menjadi ikon dan kebanggaan warga Kaligesing. Dari kambing PE-lah Kaligesing terkenal di seantero Indonesia, bahkan internasional. Kambing yang dipelihara warga masyarakat di Kaligesing yang merupakan jenis Peranakan Ettawa (PE), yakni dengan nenek-moyang kambing berjenis  Ettawa -berasal dari distrik Jamnapari (India). Ciri yang mudah dikenal yakni postur tubuh tinggi-besar, daun telinga panjang dan menggantung, dahi melengkung, dan memiliki bulu paha berbulu panjang, serta warna bulu cokelat atau hitam yang diselingi dengan belang-belang putih.

Karena berpostur tinggi dan besar, beternak kambing PE banyak ditujukan sebagai kambing potong. Tujuan lain adalah sebagai kambing perah unggulan. Sebagai gambaran, seekor induk betina yang sedang hamil atau menyusui mampu menghasilkan 3-6 liter air susu/hari. Itulah sebabnya kambing PE dikenal pula sebagai kambing dwiguna: penghasil daging sekaligus penghasil susu.

Kambing PE dihasilkan dari perkawinan silang antara kambing Ettawa dan kambing kacang (kambing lokal), yang keturunannya memiliki ciri-ciri yang tak jauh dari sang induk, yakni Ettawa. Dan, di Kaligesinglah peternakan kambing PE dikembangkan, dan menjadi pusat kambing PE terbesar di Indonesia. Untuk pengembangan lebih lanjut, pemerintah telah menunjuk Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto sebagai lembaga pendidikan dan riset khusus bagi kambing bertelinga panjang ini. Unsoed menjadikan lima desa di Kaligesing sebagai sentra utama pengembangan ternak ini, yaitu di Desa Donorejo, Tlogoguno, Pandanrejo, Tawangsari, dan Bulosobo. Di lima desa inilah terdapat 16 kelompok ternak kambing PE.

Asal muasal Peranakan Ettawa
Di ‘kampung’ asalnya, yakni di Distrik Jamnapari, India,¬† Ettawa merupakan bangsa kambing terpopuler dan dipelihara sebagai ternak penghasil susu di India dan Asia Tenggara. Pada 1923, kambing ini diternakkan di sejumlah desa di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Di kecamatan ini, Ettawa disilangkan dengan kambing lokal. Hasil persilangan itulah yang dikenal dengan Peranakan Ettawa (PE). Kambing PE yang dikembangkan di Kaligesing,memiliki ciri mirip dengan nenek moyangnya, yakni berat badan besar, kepala tegak dengan bentuk muka cembung (melengkung), dengan dagu berjanggut. Di bawah lehernya terdapat gelambir, dengan tanduk di atas kepala mengarah ke belakang, dan ujungnya sedikit melingkar. Tanduk seperti ini dapat ditemui baik pada kambing jantan maupun yang betina.

Bobot pejantan PE dewasa berkisar 65-90 kg, sedangkan yang betina 45-70 kg. Panjang badan 85-105 cm untuk jantan dan 65-85 cm untuk betina. Pada jantan, tinggi gumba atau bagian tertinggi dari punggungnya sekitar 90-110 cm dari tanah, sedangkan pada betina sekitar 70-90 cm.

Sebagai penghasil susu, kambing PE betina yang sehat memiliki ambing berkembang baik dengan puting susu besar dan panjang. Produksi susu setelah melahirkan berkisar 500-3.000 ml per hari. Rentang produksinya sangat panjang, karena hal ini sangat berkaitan dengan kualitas bibit dan tingkat kualitas betina. sm/dam/ind

Spread the love

Leave a Reply