Memberantas Kartel Daging II

Livestockreview.com, Referensi. Meski kegiatan impor daging terus berlangsung di Indonesia, toh harga daging tak terjangkau oleh jutaan masyarakat Indonesia.Saat ini, harga daging impor di Indonesia mencapai Rp 90-100 ribu per kg, dua kali lipat harga di negeri asalnya yang rata-rata hanya US$ 5 per kg atau Rp 45 ribu per kg. Disparitas harga ini sungguh sangat menggiurkan bagi pemburu rente. Kondisi inilah yang memunculkan fenomena kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) impor daging.

Untuk bisa menikmati keuntungan, mereka tak segan-segan membentuk kartel daging dan sejenisnya. Mereka inilah yang telah memiskinkan rakyat negeri ini. Kartel daging telah mengendalikan pasokan dan harga, sehingga rakyat yang berpenghasilan pas-pasan tak mampu mengonsumsi makanan bergizi ini. Alhasil, bangsa Indonesia sangat kekurangan konsumsi protein hewani.

Para pemain begitu piawai mengatur proses importasi yang secara administrasi sesuai prosedur. Para pelaku itu acap senantiasa bermain di pusaran pemegang kekuasaan untuk mendapatkan jatah kuota impor. Meski tak paham seluk beluk impor, merekalah yang mendapatkan kuota. Selanjutnya, kuota tersebut dijual kepada importir sesungguhnya. Dari kegiatan itu, para pemegang kuota itu mendapatkan fee dari sang importir.

Ulah para pemburu rente itulah yang menyebabkan harga daging impor melambung. Yang pasti, rakyat negeri ini merasakan betapa tingginya harga daging di pasaran. Akibat tingginya harga, komoditas daging telah menjadi barang mewah bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Bangsa ini telah lama dikuasai para kartel daging. Merekalah yang ‘sengaja’ memiskinkan dan ‘membuat bodoh’ rakyat.

Kurangnya asupan zat besi dapat menurunkan kadar hemoglobin, yang menyebabkan penyakit anemia. Secara umum, penyakit anemia berdampak negatif seperti gangguan perilaku, kemampuan memecahkan masalah rendah, gangguan konsentrasi, daya ingat rendah, dan tingkat IQ lebih rendah. Anemia menyebabkan penurunan pretasi belajar dan kemampuan fisik anak menurun drastis.

Pemerintah bertanggung jawab terhadap kondisi ini, termasuk konsumsi daging per kapita yang rendah yang membuat pemiskinan rakyat dan kurang gizi. Jadi, kartel dan perilaku importir daging yang memainkan harga harus dibongkar tuntas. Para penyelenggara negara seharus memahami bahwa mengonsumsi 122 gram daging sapi sudah tepat memenuhi asupan harian yang dianjurkan untuk zat besi. Angka ini sebanding dengan mengonsumsi ikan 7,8 kilogram.

Dengan mengetahui nutrisi yang terdapat pada daging sapi, anak-anak Indonesia bebas dari kekurangan gizi. Kita layak mendukung tekad pemerintah untuk memenuhi swasembada daging pada 2014. Untuk itu, kita membutuhkan para pejabat yang bersih dan tahan godaan dari para pemburu rente. (Bersambung)

follow our twitter: @livestockreview

sumber: investor | editor: soegiyono

Spread the love

Leave a Reply