Domba Komposit, Tingkatkan Mutu Genetika Domba Lokal

Livestockreview.com,Riset. Indonesia mempunyai domba lokal  yang dapat dibedakan berdasarkan tipe ekor, yaitu domba ekor tipis  dan domba ekor gemuk. Domba ekor tipis banyak berkembang di Jawa Barat dan dikenal dengan nama domba Garut.  Sedangkan domba ekor gemuk berkembang di Jawa Timur. Domba Garut memiliki keistimewaan sebagai salah satu domba prolifik dunia, yang dikendalikan oleh gen tunggal FecJ.Umur pubertas Domba Garut dicapai lebih awal, tidak memiliki sifat kawin musiman sehingga dapat beranak sepanjang tahun dan dapat bunting kembali sebulan setelah beranak, sehingga berpotensi untuk memperpendek jarak kelahiran, serta tahan terhadap serangan parasit internal. Hal itu dikemukakan oleh Prof (riset) Ismeth Inounu dalam orasi ilmiahnya di Badan Litbang Pertanian Bogor pada awal Januari lalu. Prof Ismeth Inounu yang dilahirkan di Bandung pada tanggal 1 Januari 1955 tersebut memiliki latar belakang S1 di bidang peternakan di Universitas Padjadjaran pada tahun 1980. Adapun program S2 dan S3 diselesaikan di IPB pada bidang Ilmu Ternak masing-masing pada tahun 1991 dan 1996. Ia mulai mengabdikan diri sebagai staf peneliti di Balai Penelitian Ternak Ciawi mulai tahun 1981.

Jabatan struktural yang pernah diembannya antara lain sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Nopember 2005-Nopember 2006) dan Kepala Bidang Program pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Juli 2004 – Nopember 2005). Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh adalah sebagai peneliti berprestasi dari Departemen Pertanian tahun 1998 dan mendapat satya lencana wirakarya dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2002 -hingga kemudian pada Januari ini memaparkan orasi ilmiahnya seputar domba garut untuk melengkapi jabatan barunya sebagai profesor riset di lingkup Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian RI.

Tantangan domba lokal

Domba Garut yang mempunyai sifat prolifik, jelas Ismeth, tidak selalu memberikan keuntungan yang besar bagi peternak.Jumlah anak yang banyak dari seekor induk ternyata diikuti pula dengan tingkat kematian yang tinggi pada periode prasapih.Laju pertumbuhannya pun rendah. Oleh karena itu, untuk mencapai bobot potong ideal sekitar 35 kg, Ismeth menegaskan perlunya waktu yang lama dan biaya produksi yang besar. Saat ini para peneliti, termasuk Ismeth Inounu telah melakukan upaya peningkatan mutu genetik domba lokal melalui penelitian identifikasi gen mayor pada domba ekor tipis melalui seleksi dan pembentukan rumpun baru domba komposit menggunakan satu rumpun domba temperate eksotik dan domba rambut tropis.

Populasi domba di Indonesia dilaporkan sekitar 10 juta ekor. Populasi ternak domba terbanyak terdapat di Pulau Jawa dan Madura yang terkonsentrasi di Jawa Barat. Pada kondisi lingkungan yang sama domba Garut mempunyai jumlah anak sekelahiran 1,86 sedangkan pada Domba ekor  tipis Bogor  1,58  ekor/induk/tahun.Hal ini disebabkan pada domba ekor tipis terjadi segregasi gen dengan pengaruh yang besar pada laju ovulasi dan jumlah anak sekelahiran.

Problematika pengembangan domba lokal menurut Ismeth yakni perkawinan ternak belum dilakukan secara terarah, sehingga sumber bibit terbatas hanya untuk ternak-ternak hobi. Disamping itu ketersediaan pakan untuk domba umumnya didapatkan dari lingkungan sekitar. “Keterbatasan sarana dan tenaga kerja menyebabkan petani di Pulau Jawa khususnya hanya mampu memelihara 5 ekor/kepala keluarga,”kata Ismeth. Di samping itu, masalah lain yakni manajemen usaha ternak domba belum mengarah pada permintaan pasar, dan masih terbatas sebagai tabungan atau penyediaan dana tunai saat kebutuhan mendadak. Peternak belum berorientasi agribisnis. Oleh karena itu dalam pemasaran dibutuhkan pedagang pengumpul yang bergerak di desa, untuk kemudian dibawa ke konsumen yang umumnya di daerah urban.

Adapun tentang penyakit, yang banyak menyerang ternak domba adalah penyakit cacing dan penyakit anthrax.  Hal ini sangat merugikan peternak domba.  Meskipun demikian domba lokal mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

Peluang Pengembangan

Sampai saat ini konsumsi daging domba maupun kambing masih sangat rendah, yakni sekitar 5% dari total kebutuhan daging atau sekitar 0,24 g per kapita per tahun.  Walau laju permintaan daging domba tidak terlalu besar; diperkirakan permintaan untuk qurban dan aqiqah akan sangat besar.  Jika diasumsikan keluarga muslim yang berqurban meningkat 10% per tahun, maka untuk keperluan qurban potensi pasarnya akan meningkat menjadi 4-5 juta ekor/tahun.

Untuk keperluan aqiqah, dengan asumsi tingkat kelahiran bayi muslim 1,5% maka akan dibutuhkan sekitar 4,3 juta ekor per tahun.  Berarti untuk keperluan ritual keagamaan, akan ada tambahan permintaan minimal 9 juta ekor per tahun.  Ini adalah suatu peluang pengembangan ternak domba yang sangat besar.  Jika mempertimbangkan potensi pasar daging domba di Arab Saudi, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia akan mempunyai peluang yang lebih besar untuk diterima produknya disana.

Untuk mengembangkan ternak domba agar dapat memenuhi pasar dalam negeri maupun luar negeri maka teknologi pemuliaan ternak dan strategi pengembangan yang tepat menjadi sangat diperlukan. Berangkat dari hal itu, Ismeth Inounu berinisiatif melakukan serangkaian penelitian untuk membentuk suatu domba komposit melalui teknologi persilangan, sehingga dapat meningkatkan mutu genetika domba lokal. follow our twitter: @livestockreview

penulis : sugiyono | editor: sugiyono

Spread the love

One thought on “Domba Komposit, Tingkatkan Mutu Genetika Domba Lokal

Leave a Reply