Cara Benar Minum Susu Agar Anak Tidak Kegemukan

Livestockreview.com, Produk Olahan. Produk olahan hasil peternakan, yakni susu sangat dibutuhkan bagi semua tingkatan usia manusia, mulai anak-anak hingga manula. Perempuan hamil hingga ibu menyusui. Susu menjadi sumber protein dan kalsium, yang bisa melengkapi kebutuhan asupan nutrisi setiap harinya. Sayangnya, tak semua orang teredukasi dengan baik untuk memilih dan memilah susu dengan tepat. Terutama susu dengan gula tambahan berkadar tinggi, yang menyebabkan kegemukan.

Anak-anak menjadi penderita utama dari ketidakpedulian orangtua dalam menyeleksi susu. Pasalnya, anak-anak paling banyak mengasup susu, yang porsinya bisa mencapai 8-10 gelas per hari. Alasan kebutuhan gizi dan melengkapi kebutuhan asupan anak yang cenderung sulit makan, mendasari orangtua yang memberikan susu berlebihan kepada anak.

“Idealnya, anak mengonsumsi susu 2-3 porsi gelas per hari atau sekitar 200-300 cc per gelas. Makanan harian memang belum mencukupi kebutuhan pola gizi seimbang. Susu melengkapi kebutuhan gizi anak. Namun asupan susu juga perlu dikontrol, baik dari porsi mau pun pemilihan susu yang tepat sesuai usia, dan kandungan gula di dalam susu. Karenanya, penting untuk membaca label dalam susu secara mendetil,” tutur Dr dr Saptawati Bardosono MSc, ahli gizi dari Departemen Nutrisi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia belum lama ini.

Baca label dengan teliti

Susu mengandung kebaikan yang dibutuhkan tubuh. Namun, pilihan susu turut menentukan manfaat yang didapatkan. Susu juga bisa menyebabkan kegemukan jika salah mengonsumsi, keliru dalam menyajikan, dan tak teliti membaca label yang berisi informasi jumlah asupan kalori dan kandungan gula tambahan. “Gula tambahan dalam susu harus terinformasikan dengan jelas di label. Karenanya orangtua perlu peduli dan jeli membaca label pada susu untuk memastikan asupan gula dan kalori,” kata dr Tati.

 Waspadai gula tambahan

Menurut National Academy of Sciences, Food & Nutrition Board, Amerika Serikat yang termasuk gula tambahan di antaranya gula putih, gula merah, sirup jagung, sirup maple, sirup pancake, madu. Segala jenis gula di luar laktosa dan gula dari buah termasuk gula tambahan. Sementara laktosa dan gula dari buah termasuk gula alami yang aman dikonsumsi.

Kita bisa menghitung kadar gula dalam susu dari label, dengan jeli memerhatikan jenis gula tambahan yang terkandung dalam susu. “WHO menganjurkan asupan gula dari susu tidak boleh lebih dari 10 persen. Sedangkan saat ini, menurut Riset Asupan Gula 2011 dari FKUI, asupan gula pada anak dari susu mencapai 28 persen, melebihi dari anjuran WHO,” jelas dr Tati, menambahkan asupan kalori yang berlebihan dari gula tambahan inilah yang menyebabkan kegemukan pada anak.

Kegemukan pada anak memicu berbagai penyakit kronis. Selain obesitas, anak juga bisa berisiko terkena penyakit degeneratif. Penderita penyakit jantung kini usianya semakin muda, 29 tahun meninggal karena jantung. Riset Asupan Gula 2011 FKUI juga menyebutkan kegemukan pada anak Indonesia akibat berlebihan mengonsumsi susu dengan gula tambahan meningkat hingga 19 persen dari 12 persen. Angka ini melebihi tingkat kegemukan pada anak di Amerika Serikat yang mencapai 14 persen.

Cara benar minum susu

Cara minum susu juga penting diperhatikan, agar anak terhindar dari masalah kegemukan akibat asupan gula tambahan pada susu yang berlebihan. Perhatikan porsi minum susu setiap harinya. Selepas ASI, anak di atas 1 tahun mulai diperkenalkan susu sapi yang diencerkan sedikit demi sedikit. “Namun perlu juga waspada akan adanya diare atau alergi susu sapi. Karenanya berikan susu sesuai usia, kebutuhan anak, dan ikuti dosis yang dianjurkan,” jelas dr Tati.

Untuk anak usia 1-3 tahun, berikan asupan susu total 500-750 ml perhari. Kebutuhan nutrisi lainnya harus dicukupi dari beraneka ragam makanan dan air putih. Selain itu, yang juga penting diperhatikan saat minum susu adalah memilih produk susu sesuai usia anak. Perhatikan juga kebersihan saat menyimpan, menyajikan, dan mengonsumsi susu untuk anak.

follow our twitter: @livestockreview

sumber: fkui | editor: ria laksmi

Spread the love

Leave a Reply