Strategi Peningkatan Produksi Daging Nasional dan Program Breeding yang Spesifik untuk Sistem Produksi yang Berbeda

Livestockreview.com, Referensi. Konsumsi daging sapi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun; namun peluang ini tidak terkejar oleh peningkatan produksi daging sapi nasional. Berbagai program yang dilancarkan pemerintah untuk memacu produksi saging sapi nasional belum menampakkan hasil yang signifikan.

Program terakhir yang dilaksanakan yaitu Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS-SIWAB) telah didesain sedemikian rupa dari mulai aspek sumber daya manusia, kesehatan, perkawinan, hingga aspek pakan diperhatikan dengan detail dan saksama.

Namun, evaluasi dari program ini menunjukkan bahwa upaya tersebut belum dapat mencapai hasil yang diharapkan baik dari target sapi yang menjadi objek inseminasi buatan (IB) maupun dari nilai calving interval (CI) -sehingga ekspektasi peningkatan produksi daging nasional perlu dikaji ulang.

Dari beberapa sumber yang membahas tentang topik ini, ada dua hal yang mencolok dan dapat digarisbawahi sebagai penyebab utama kurang suksesnya program-program yang dicanangkan oleh pemerintah terkait dengan breeding sapi potong.

Hal-hal tersebut adalah: 1). mindset pada tataran smallholder farmers atau peternak rakyat skala kecil bahwa beternak bukan merupakan profesi; dan 2). adanya gap atau kesenjangan antara arah dan tujuan dari program yang dicanangkan pemerintah dengan sistem produksi pada peternakan rakyat, tujuan beternak serta preferensi pasar daging sapi.

Oleh sebab beternak bukan menjadi profesi

Faktor pertama yang membuat kurang optimalnya hasil dari program pemerintah berasal dari sisi sumber daya manusia. Sekitar 90% peternak di Indonesia adalah peternak rakyat skala kecil, dengan jumlah ternak 2-5 ekor. Berbagai riset telah mendokumentasikan bahwa kelompok peternak skala kecil ini memelihara ternak bukan sebagai profesi utama.

Tujuan mereka memelihara ternak beraneka ragam: mulai dari sebagai tabungan, usaha sampingan, penghasil pupuk kandang, sebagai perwujudan status sosial, karena budaya lokal, dan lain sebagainya.

Realitas bahwa beternak bukanlah dianggap sebagai profesi tentunya berimbas pada pola pikir dan investasi (baik dalam bentuk uang, tenaga maupun waktu) yang dicurahkan terhadap ternak dan kegiatan beternak.

Upaya dan dukungan dari negara untuk meningkatkan produktifitas populasi ternak sapi pada tataran ini kurang mendapatkan respon -sehingga program apapun dari pemerintah tidak akan efisien jika diterapkan disini.

Semisal ada sebuah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan populasi ternak; maka program ini tidak akan berjalan jika diterapkan pada peternak skala kecil. Mengapa demikian? Karena mau sebagus apapun programnya, peternak skala kecil akan tetap memelihara hanya 2-5 ekor sapi per keluarga.

Alokasi waktu, tenaga, luasan lahan dan finansial mereka tidak memungkinkan jika digunakan untuk memelihara lebih dari 2-5 ekor sapi. Sehingga, jika pemerintah akan membuat program peningkatan populasi sapi lewat inisiatif yang masal dan masif untuk memaksimalkan potensi reproduksi sapi betina, perlu dipikirkan kembali bagaimana dan siapa yang akan menampung pedet bakalan yang dihasilkan.

Kemudian menyinggung upaya peningkatan produktifitas sapi secara individual dengan menyilangkan sapi betina milik peternak dengan sapi premium yang superior (melalui IB) sebagai penghasil daging misalnya.

Maka keturunan dari dari hasil persilangan (crossbreeding) ini memang akan memiliki potensi yang sangat baik untuk tumbuh sebagai sapi dengan ukuran tubuh yang besar dan memiliki prosentase karkas yang tinggi. Namun perlu diingat bahwa potensi genetik yang superior, hanya bisa terekspresi secara maksimal jika faktor-faktor pendukungnya terpenuhi.

Faktor-faktor tersebut antara lain pakan yang tercukupi secara kualitas dan kuantitas, layanan kesehatan yang memadai dan kondisi lingkungan yang optimal. Kembali lagi ke peternak skala kecil dengan investasi terbatas; seberapa banyak sumberdaya yang mau dan mampu dialokasikan untuk ternak? Pertanyaan ini tentunya muncul dengan berpijak pada fakta bahwa beternak bukanlah merupakan profesi utama.

Kesimpulan dari uraian di atas, bukan berarti bahwa peternak skala kecil tidak layak mendapat perhatian dari pemerintah. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kelompok peternak skala kecil mampu menyumbang lebih dari 50% total produksi daging nasional. Hanya saja, standar dan program yang berbeda perlu diterapkan antara peternak profesi dan pemelihara ternak non-profesi.

Program yang disusun khusus untuk peternak skala kecil harus disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan dan curahan investasi mereka. Dengan merancang program yang spesifik untuk tiap tataran skala peternak maka standar dan perlakuan yang diberikan akan berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan demikian, diharapkan program yang diberikan akan mendapatkan respons yang lebih positif dan signifikan.

Kesenjangan program pemerintah, permintaan pasar, dan sistem produksi peternak

Tujuan utama dari program-program pemerintah terkait breeding sapi potong adalah upaya peningkatan produksi daging nasional. Penetapan tujuan ini tentunya dapat dipahami; karena jika produksi daging nasional dapat ditingkatkan, maka ekspor sapi dan/atau daging dapat dikurangi.

Ibarat sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Dengan menurunnya impor, diharapkan bahwa semakin banyak sapi milik peternak yang terbeli; sehingga peternak semakin sejahtera dan masyarakat secara umum dapat menikmati daging hasil dari peternak lokal dengan harga terjangkau.

Hipotesa tersebut tentunya dibuat berdasarkan asumsi bahwa masyarakat peternaklah yang akan mendapatkan keuntungan secara ekonomis jika peningkatan produksi daging nasional dapat diwujudkan.

Tahun 2020 pemerintah meluncurkan program 1000 desa sapi dengan salah satu agenda unggulannya yaitu pelepasan semen dari sapi-sapi pejantan premium, yaitu dari bangsa Wagyu, Belgian Blue dan Galician Blond, ke masyarakat. Artinya, mulai saat ini, masyarakat dapat meminta inseminator untuk melakukan IB dengan semen dari pejantan premium tersebut. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apakah agenda ini sejalan dengan tujuan awal yang telah dicanangkan?

Pertama akan dijelaskan mengapa bangsa-bangsa baru yang akan diintroduksikan ini diistilahkan sebagai ternak premium. Sapi Wagyu adalah sapi dari wilayah Asia Timur (terutama Jepang dan Korea), yang terkenal karena kualitas dagingnya yang premium, luar biasa empuk dan juicy karena marbling yang sangat baik. Satu potong ”prime-cut” steak dari sapi Wagyu dengan berat 200-250 gr bisa bernilai ratusan dollar Amerika. Kemudian ada sapi Belgian Blue dan Galician Blond dari daratan Eropa.

Kedua, sapi ini memiliki sifat double muscling sehingga prosentase karkasnya bisa 20-30% lebih banyak dari sapi biasa dari bangsa yang sama dengan kualitas daging yang juga empuk, namun ”lean” (rendah lemak dan tinggi protein) kebalikan 180 derajat dari sapi Wagyu.

Ketiga jenis sapi ini memiliki potensi genetik yang luar biasa, namun faktor penunjang yang dibutuhkan agar mereka dapat memunculkan potensinya secara maksimal juga harus berkualitas bintang lima.

Tentunya kita tidak dapat bereforia dengan hanya memandang potensi yang luar biasa tersebut. Hal yang paling penting yang harus diamati adalah preferensi pasar terhadap daging sapi. Seperti diketahui, bahwa di dalam negeri, konsumsi dari daging sapi paling banyak adalah sebagai bakso dan masakan tradisional dengan bumbu yang kompleks dan waktu pengolahan yang panjang (seperti rendang, gulai, abon, dan lain-lain).

Kondisi semacam itu tidak memerlukan daging dengan kualitas premium. Daging premium memiliki pasaran di hotel-hotel berbintang dan restoran-restoran ”fine dine” yang serapannya tidak lebih 20% dari konsumsi daging nasional.

Dengan demikian, argumen untuk mengintroduksi bangsa sapi dari kelas premium bahwa sapi-sapi ini memiliki daging dengan kualitas tinggi, perlu dipertanyakan.

Sapi-sapi premium baru itu memiliki postur tubuh yang besar dengan potensi menghasilkan daging yang banyak, terutama Belgian Blue dan Galician Blonde. Jika dilakukan persilangan dengan sapi lokal, maka bisa ditebak: keturunannya diharapkan mewarisi sebagian dari sifat superior tersebut.

Dan jika memang hal itu bisa terwujud, lalu apa implikasinya bagi peternak? Kita umpamakan suatu skenario dimana agenda program persilangan antara sapi-sapi betina milik peternak dengan semen sapi premium sudah terlaksana dan diperoleh keturunan yang sesuai dengan harapan dari program tersebut.

Maka sapi-sapi bakalan crossbred premium ini akan memiliki postur yang besar lebih menonjol dibandingkan bakalan yang lainnya di pasaran dengan potensi kualitas daging yang tinggi.

Tentunya hal ini akan menyebabkan sapi bakalan premium memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan rata-rata. Belum lagi jika diasumsikan peternak mampu membesarkan sapi-sapi ini dengan investasi ekstra, dan kemudian sapi ini tumbuh menjadi sapi potong berukuran tubuh besar.

Lalu, apakah dengan skenario ini berarti bahwa tujuan awal -untuk meningkatkan produksi daging nasional, meningkatkan kesejahteraan peternak dan menyediakan daging yang terjangkau bagi masyarakat- dapat tercapai?

Pada Kajian Respon Supply dan Demand Sapi Potong Lokal terhadap Impor Daging Kerbau oleh PB-ISPI yang dirilis tahun 2019, terdapat informasi tentang kendala produksi sapi potong, terutama di Pulau Jawa.

Masalah yang umum dihadapi oleh peternak adalah mahalnya harga sapi bakalan dan sulitnya menjual sapi yang berukuran besar. Dengan mempertimbangkan temuan ini, maka secara logika, introduksi sapi premium justru menambah masalah yang sudah ada.

Pedet atau bakalan sapi dengan harga jual tinggi akan dihindari oleh sebagian besar peternakan rakyat, karena akan meningkatkan biaya produksi. Kemudian dapat dipastikan bahwa bakalan keturunan sapi premium akan membutuhkan investasi yang ekstra untuk dapat tumbuh mencapai potensi genetiknya yang maksimal. Ditambah dengan fakta bahwa pada kondisi normal (di luar hari raya), peternak sulit untuk menjual sapi yang berukuran besar.

Lalu dengan demikian, apa sebenarnya esensi memasukkan bangsa baru ke dalam populasi sapi potong Indonesia yang sudah carut-marut ini? Apa kontribusinya bagi peternak dan peternakan di Indonesia? Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun dan menjalankan program breeding untuk ternak besar seperti sapi.

Aspek pertama adalah sistem produksi (termasuk di dalamnya masalah sumberdaya, sosial ekonomi, ekologi dan budaya); kemudian arah dan tujuan yang spesifik dan terukur; informasi mengenai faktor genetis, fisiologis dan reproduksi yang detail dan komprehensif; hingga strategi yang disusun dengan matang untuk mencapai tujuan yang dicanangkan.

Kajian yang mendalam dan menyeluruh perlu dilakukan untuk semua aspek di atas sehingga program yang telah dirancang memiliki akurasi yang tinggi dan akan memperoleh respon yang signifikan. Mengingat beragamnya tujuan, motivasi, sistem produksi dan skala peternakan di negara kita, maka sudah selayaknya dibuat diferensiasi kelas peternak.

Peternakan skala kecil yang beroperasi secara individual seyogyanya tidak dibebani dengan tanggung jawab sebagai tulang punggung program dari pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan produksi daging sapi. Hal ini sehubungan dengan keterbatasan sumberdaya dan curahan investasi yang dimiliki oleh peternakan rakyat skala kecil.

Variasi sistem produksi pada skala ini juga berpotensi menyebabkan inefisiensi jika mereka dipaksakan untuk menjalankan program yang seragam. Upaya terkait peningkatan produksi daging skala nasional baik dari sisi populasi maupun produktifitas individu ternak selayaknya diterapkan pada peternakan profesional dengan curahan investasi dan kemampuan manajemen yang lebih tinggi sehingga program yang diberikan dapat terkontrol dengan baik, terukur dan memperoleh respons yang optimal.

Jika dipandang potensial, dan hal ini perlu kajian tersendiri, peternak skala kecil dapat dihimpun dalam bentuk korporasi di bawah manajemen yang profesional dan kelembagaan yang kuat sehingga mereka tetap dapat berkontribusi dalam mendukung program pemerintah secara efisien.

Perlu pula digarisbawahi, bahwa program breeding adalah investasi jangka panjang yang mahal, merupakan upaya yang harus dilaksanakan secara konsisten. Oleh sebab itu harus bebas dari intervensi politis. Usaha keras, kerjasama serta good-will dari semua pemangku kepentingan mutlak diperlukan jika mimpi peningkatan produksi daging nasional ingin direalisasikan. Kiranya hal ini harus menjadi perhatian pemerintah khususnya Dirjen PKH kementan.

sumber: pb ispi | penulis: nuzul widyas (program studi peternakan, universitas sebelas maret, surakarta), tri satya mastuti widi (fakultas peternakan universitas gadjah mada, yogyakarta), rochadi tawaf (sekretaris jenderal perhimpunan peternak sapi dan kerbau indonesia) | editor: apriliawati

follow our ig: www.instagram.com/livestockreview

Leave a Reply