Seruan Bulaksumur untuk Penyelamatan Peternak Ayam Broiler

Livestockreview.com, Bisnis. Selama lebih dari 2 minggu terakhir ini dan baru kali ini, harga ayam broiler hidup (live bird) jatuh hingga titik terendah (Rp.7.000 s/d Rp. 9.000 per kg) dalam sejarah peternakan broiler modern. Sementara harga pokok produksi setiap kg setidaknya antara Rp. 16.000 s.d Rp. 18.000 per kg, sehingga peternak mengalami kerugian besar (sekitar Rp. 10.000 setiap kg) bahkan teracam bangkrut dan gulung tikar khususnya di Pulau Jawa.

Atas hal itu Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof. Ali Agus dan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan UGM Prof. Siti Isrina Oktavia Salasia berinisiatif menyuarakan jeritan hati peternak dalam bentuk seruan bulaksumur ini. Ali Agus menjelaskan, industri peternakan ayam broiler di Indonesia dari hulu ke hilir telah melibatkan puluhan ribu bahkan beberapa juta tenaga kerja.

Terpuruknya harga ayam broiler tidak boleh berlangsung lebih lama lagi dan perlu segera upaya penyelamatan, untuk menghindari dampak buruk lanjutan seperti pengangguran, langkanya daging ayam broiler karena peternak meninggalkan lapangan usahanya, hingga dampak negatif sosial ekonomi di tengah – tengah masyarakat. Meskipun harga ayam hidup di level peternak jatuh, namun faktanya harga di tingkat konsumen masih sekitar Rp. 18.000 per kg ayam hidup, dan untuk harga karkas masih berkisar antara Rp. 26.000 s/d 32.000 per kg.

Rendahnya harga ayam broiler tidak dinikmati oleh konsumen, karena harga relatif masih wajar yang paling rugi adalah peternak (mandiri). Disparitas harga ayam yang tinggi dalam tata niaga dan juga antar wilayah atau antar pulau (harga live bird di luar pulau jawa masih normal), mengindikasikan adanya oversupplay stock ayam hidup khususnya di Jawa. Kejadian oversupply pada momentum bulan puasa dan idul fitri, bisa dipahami bahwa kemungkinan peternak berharap ada peningkatan permintaan ayam, sehingga peternak atau pelaku usaha peternakan broiler meningkatkan jumlah stock ayam yang di produksi dan yang pelihara (chick in) pada periode sebelumnya.

Kampus Bulaksumur Yogyakarta menyerukan untuk dilakukan penyelamatan peternak dan pelaku industri peternakan ayam broiler, melalui langkah konkrit dan urgen sebagai berikut:

a. Mengendalikan dan menjaga keseimbangan supplay-demand daging ayam broiler dengan mengurangi stock produksi bibit (DOC) secara transparan, terukur dan bisa dipertanggung jawabkan. Kalkulasi akurat dan up to date kebutuhan dan supplay daging ayam broiler harus dilakukan secara cermat dan sungguh sungguh.

b.Pemerintah segera menetapkan harga acuan atas dan harga acuan bawah baik untuk DOC, pakan, live bird maupun karkas sehingga setiap pelaku usaha baik yang di hulu maupun yang di hilir memiliki ruang yang fair dan adil dalam memperoleh keuntungan dari usahanya. Harga acuan tersebut secara reguler dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan keadaan.

c.Perlu menjaga bahkan meningkatkan proporsi usaha di sektor budidaya sehingga memungkinkan pelaku usaha peternakan ayam broiler di sektor budidaya ini mampu bertahan hidup dan memperoleh kesejahteraan yang memadai.

d.Pemerintah perlu membantu memfasilitasi peternak atau pelaku usaha peternakan untuk memiliki usaha pemotongan (RPA/RPU) dan gudang penyimpanan (cold storage), disamping untuk infrastruktur perkandangan yang lebih memadai dan comfortable bagi ayam.

e.Dalam jangka menengah dan panjang, restrukturisasi industri perunggasan yang efisien, berkeadilan dan yang memberikan ruang bagi pemerataan akses berusaha perlu segera di fikirkan secara komprehensif, demi menjamin kepastian usaha dan kesejahteraan pelaku usaha peternakan ayam.

sumber: ugm | editor: sugiyono

Follow our Instagram & Twitter: @livestockreview



Spread the love

Leave a Reply