Sapi Sering ‘Emosi’, Kualitas Dagingnya Buruk

0
115

Livestockreview.com, Riset. Temperamen sapi ternyata mempengaruhi bagaimana mereka bersikap, berhadapan dengan penyakit, dan bagaimana cara terbaik untuk merawat ternak tersebut. Para ahli menemukan bahwa temperamen sapi mempengaruhi bagaimana mereka bersikap, bagaimana ternak-ternak itu berhadapan dengan penyakit, dan bagaiman cara terbaik untuk merawat ternak tersebut.

Dalam studinya, Peneliti asal US Department of Agriculture (USDA) memperhatikan kejadian-kejadian yang menyengsarakan para anak sapi seperti penyapihan, transportasi, dan vaksinasi yang merupakan kejadian rutin dialami mereka saat dipelihara. Peneliti kemudian mengamati hubungan tak langsung antara stres dan temperamen sapi terkait dengan transportasi, tantangan bagi daya tahan tubuh, serta tingkat produksi.

Ada 24 sampai 36 anak sapi yang digunakan untuk setiap penelitian, tergantung uji yang dilakukan. Sebuah sistem gugur, yang mengukur tingkat di mana hewan yang bersangkutan mampu bertahan, digunakan untuk mengetahui temperamen mereka. Sistem penilaian terkait dengan sistem gugur juga digunakan untuk mengalkukasikan nilai temperamen mereka. Apakah masuk ke kategori tenang, temperamen tinggi, atau sedang.

Ketika berhadapan dengan bakteri berbahaya, sapi menunjukkan perbedan signifikan dalam perilaku mempertahankan diri dari penyakit, tergantung temperamen mereka. Semakin tinggi temperamen, sapi yang bersangkutan semakin tidak terlihat sakit.

Namun, sapi yang tenang cepat menunjukkan tanda-tanda mereka akan terserang penyakit. Diketahui pula bahwa sapi dengan temperamen tinggi tidak memiliki daya tahan yang kuat terhadap vaksin dibandingkan dengan sapi dari kawanan yang sama, namun dengan temperamennya lebih rendah.

Dalam studi berbeda, tim peneliti juga menemukan bahwa penyebab utama stres pada sapi bukanlah pada sesi transportasi, tetapi proses digotong dan diangkut ke truk angkut. Meski begitu, durasi perjalanan dan kondisi transportasi diketahui membawa efek negatif pada lemak antar otot atau pola marbling pada daging, yang digunakan sebagai sumber energi utama bagi para sapi yang ditransportasikan.

Marbling, atau pola pada daging sapi sendiri menentukan tingkat kualitas daging. Semakin rendah tingkat marbling, semakin rendah pula kualitas daging tersebut. Sapi dengan temperamen tinggi memiliki cadangan lemak yang rendah. Ini menandakan bahwa temperamen membawa pengaruh pada tingkat kualitas akhir daging sapi yang bersangkutan.

sumber: ng | editor: diana mandagi

follow our twitter: @livestockreview

SHARE
Previous articleWe discovered this as children
Next articleWe live in a society of “up selling”
Livestockreview.com didedikasikan untuk turut memajukan industri peternakan dan produk hasil olahannya di tanah air. Diasuh oleh para ahli di bidangnya, Livestockreview.com menjadi ajang update informasi bagi para pelaku bisnis dan industri peternakan Indonesia.