Peternak Indonesia belum Berpikiran Bisnis

LIvestockreview.com, Referensi. Perilaku peternak di Indonesia umumnya masih berbasis investasi dan tidak fokus pada tujuan bisnis, akibatnya mereka tidak memprediksi kebutuhan masyarakat akan daging sapi. Oleh karenanya, pemerintah harus mengajari peternak dan mengubah perilaku peternak menjadi mengerti bisnis.Perilaku itu bisa diubah, di antaranya lewat pembentukan bisnis yang bersifat kolektif. Contohnya yakni dengan 1.000 induk sapi yang sudah ada di peternak kecil per usaha kolektif, dibimbing secara per kolektif.

Pembimbingan kolektif tersebut sangat perlu, terlebih kalau melihat hasil survei karkas tahun 2012 yang memperlihatkan sebanyak 85 persen sapi-sapi milik peternak ternyata tergolong kurus dan sedang.

Karkas adalah bagian dari hewan potong yang disembelih setelah kepala dan kaki dipisahkan, dikuliti, serta isi rongga perut dan dada dikeluarkan. Sebenarnya Indonesia pernah swasembada daging pada tahun 1990 dengan produksi ternak domestik mencapai 99,32 persen. Namun, kemudian terjadi penurunan terus menerus pada produksi domestik hingga “supply” (pasokan) sapi lokal hanya 70 (data tahun 2011).

Penurunan populasi sapi ada kaitannya dengan perbaikan genetik sapi Indonesia dalam hal penggemukan. Jika bibit sapinya jelek, kata dia, diberi pakan sebanyak apapun hasilnya akan jelek alias sapi tidak gemuk. Karena itu untuk mensukseskan program itu, kebijakan swasembada harus diubah, yakni dengan adanya kebijakan tarif dan kuota impor, subsidi produksi dan perbaikan teknologi. Kebijakan tarif terasa lebih “fair”, karena kalau terus-terusan impor dan dan tarif dilepas maka lima tahun ke depan peternakan Indonesia akan hancur.

Solusi lain yakni dengan menjalankan beberapa metoda yakni dengan mengkombinasikan perbaikan teknologi, yakni peningkatan dosis inseminasi buatan (IB) 25 persen, peningkatan impor sapi bibit 20 persen, penurunan suku bunga pinjaman 4 persen, penurunan impor sapi bakalan 25 persen dan penurunan impor daging sapi 35 persen.

Namun yang perlu diingat, metoda itu jika diterapkan dengan baik dan benar, tahun 2014 masih belum bisa tercapai swasembada, karena produksi domestik baru 80 persen. Swasembada akan dicapai tahun 2021 dengan catatan kebijakan dilakukan dan peningkatan permintaan konstan.

sumber: ant4ra | editor: diana mandagi

follow our twitter: @livestockreview

Spread the love

Leave a Reply