Pelajaran Penting dari Program Swasembada Daging 2014 (Bag II – Tamat)

1
199

Livestockreview.com, Opini. Di aspek budidaya ternak, kini semakin jelas potret kondisi sapi dan peternaknya. Cukup banyak sapi yang terabaikan oleh peternak karena keterbatasan tenaga dan curahan waktu peternak dalam mengurus ternaknya. Ini mengakibatkan kondisi sapi yang lebih banyak kurusnya daripada gemuknya.

Sebagian besar peternak tidak berbisnis ternak tetapi hanya sekadar memelihara ternak dan menabung tenaga untuk kemudian ditukar uang pada saat dibutuhkan. Tidak ada perencanaan usaha peternakan sapinya karena mayoritas peternak hanya memiliki 2-3 ekor sapi per peternak. Sapi yang dipelihara peternak tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang luasnya hampir sama dengan benua Eropa dan budaya masyarakat berbeda antardaerah dalam memelihara ternak sapinya.

Di aspek hulu, baru disadari pula bahwa ternyata kita tidak memiliki sapi lokal berkualifikasi bibit. Selama ini peternak dan masyarakat sering menyebut betina produktif sebagai bibit. Cukup sering juga terdengar bahwa sapi dengan postur tubuh besar disebut sebagai bibit yang bagus. Kurangnya pemahaman tentang bibit mengakibatkan sapi silangan yang pada umumnya berpostur lebih besar daripada postur sapi lokal disebut sebagai bibit unggul. Dan masih banyak kesalahan peternak dalam memaknai bibit.

Kompleksitas,kesemrawutan, dan ketidakseragaman dalam pengelolaan sapi oleh peternak di seluruh Indonesia yang terkuak satu per satu dalam hiruk pikuk program swasembada daging sapi itu yang datanya dijadikan sebagai landasan dalam menyusun strategi nasional. Itu jelas berbeda dengan kondisi peternakan sapi di Australia yang relatif seragam pengelolaannya,seragam bangsa sapinya, dan seragam semua aspek pemeliharaannya. Namun perbedaan tajam tersebut digunakan dalam penentuan supply-demand daging sapi di Indonesia. Hal itu pastinya tidak fair.

Sehebat apapun dirjen peternakan dan kesehatan hewan, secemerlang apapun para pakar yang mendampingi pemerintah, dan secanggih apapun analisis yang digunakan, data yang diperoleh akan selalu menjadi perdebatan tak-habis-habis dari seluruh pemangku kepentingan karena berbagai kesemrawutan usaha dan industri persapiandi Indonesia sebagaimana diuraikan di atas.

Oleh karena itu, saatnya kita berbenah menata usaha dan industri peternakan sapisecara lebih profesional. Para peternak berskala kecil yang mendominasi kepemilikan ternak sapi harus “didandani” pikirannya dan “diperluas” wawasan bisnisnya, serta “diterampilkan” kemampuan beternaknya. Mereka adalah tulang punggung bangsa yang menyediakan bahan panganasal hewan.

Cukup satu kali saja belajar dari sapi melalui program swasembada daging sapi 2014. Selanjutnya kita semua harus lebih cerdas dalam menata dan membangun peternakan di Indonesia, untuk semua komoditas ternak. (HABIS)

muladno, guru besar pemuliaan dan genetika ternak faster ipb dan ketua umum himpunan ilmuwan peternakan indonesia, seperti yang ditulis dalam halaman facebooknya | editor: sitoresmi fawzi

follow our official twitter: @livestockreview  |  follow our official instagram: livestockreview

1 COMMENT

  1. […] Ketidakberdayaan petugas pemerintah daerah dalam mengendalikan dan mengelola RPH sehingga kondisi RPH makin hari selalu makin memburuk. Tidak akurasinya informasi tentangsapi seperti bangsa sapi, bobot badan saat potong, dan bobot karkas yang diterbitkan petugas RPH karena tidak diterapkannya standar yang telah digariskan pemerintah; dan masih banyak sederet permasalahan yang perlu dibenahi. (BERSAMBUNG, klik di sini untuk lanjutannya) […]