Menghindari Penyakit Zoonosis Hewan Kurban

Livestockreview.com, Referensi. Menjelang dan Saat Idul Adha, harga sapi dan kambing/domba di pasaran meningkat. Padahal pada hari biasa harga daging sudah tinggi sejak terjadi penurunan stok lokal dan pengurangan impor menjelang Lebaran lalu. Namun kini permintaan masyarakat terhadap hewan kurban tetap tinggi.

Semangat kurban perlu diimbangi dari pemenuhan aspek kesehatan hewan (keswan) dan kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet). Hal itu terkait dengan bagian dari pelaksanaan UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, yakni ternak yang dikembangkan untuk keperluan konsumsi harus memenuhi syarat kesehatan.

Terkait dengan hewan kurban berupa sapi, kerbau, kambing, domba, salah satu penyakit yang dikhawatirkan sebagai sumber zoonosis adalah antraks. Penyakit ini disebabkan bakteri (bukan virus) Bacillus anthracis. Gejala penyakit ini dapat bersifat perakut, akut. dan kronis. Perakut artinya hewan mati mendadak tanpa disertai gejala, atau dapat disertai gejala sesak napas, gemetar, rebah, dan kejang.

Dalam bentuk akut, gejala dimulai dari demam, gelisah, depresi, sesak napas, detak jantung cepat tapi lemah, kejang dan kematian dalam waktu singkat. Ciri khas setelah mati keluar darah hidung, anus, dan te­linga. Adapun bentuk kronis hanya berupa luka borok lokal pada lidah dan tenggorokan.

Kementan mengidentifikasi 9 provinsi daerah endemis antraks, yaitu Jateng, Jabar, Sumbar, Jambi, Sulsel, Sulteng, Sultra, NTB, dan NTT. Di Ja­teng tahun 2011 terjadi serangan antraks pada sapi di Kabupaten Boyolali. Di Kecamatan Klego Boyolali ditemukan 1 kasus, dan di Jabar sebaran daerah endemis meliputi Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Pemeriksaan hewan kurban harus di­laksanakan sebelum dan sesudah disembelih (ante-mortem dan post-mortem). Peme­riksaan ante-mortem merupakan langkah awal mendeteksi penyakit. Hewan kurban yang sehat ditandai dengan keaktifan memakan pakan. Saat mendekam biasanya ia memamah biak (nggayemi). Jika tidak nggayemi, bukan berarti sakit.

harjuli hatmono, anggota tim pengendali zoonosis provinsi jawa tengah (suara) | editor: sitoresmi fauzi

follow our twitter: @livestockreview

 

Spread the love

Leave a Reply