Mencari Sebab Harga Telur Anjlok

0
95

Livestockreview.com, Opini. Lika-liku perjalanan harga telur yang begitu fluktuatif menghiasi obrolan para peternak ayam petelur akhir-akhir ini. Penurunan harga yang sangat signifikan terlihat pada beberapa hari terakhir, harga telur ras perkilogram nya mencapai angka 12200 /kg untuk daerah Semarang.

Kondisi harga telur ini juga dipertegas oleh Slamet, salah satu peternak ayam petelur Tirto Unggul, Sekopek-Semarang. “Harga telur ayam ras saat ini mencapai 13.000/kg untuk skala besarnya,” katanya. Selain itu ia juga menyatakan keresahannya atas harga telur ayam saat ini.

Atas dasar kondisi saat ini saya mencoba menganalisis penyebab terjadinya penurunan harga tersebut. Dalam sejarah perteluran di Indonesia hampir selalu terjadi paradoks yakni disaat harga pakan naik, selalu diikuti dengan turunnya harga telur.

Rantai hubungan antara pabrik pakan dengan peternak

Pabrik pakan dalam melaksanakan fungsi utamanya dalam penyediaan pakan bagi pengusaha budidaya ayam petelur biasanya menyetujui kontrak kerja. Kontrak kerja itu yakni, peternak sebagai pelanggan tetap (partner bisnis) yang secara kontinyu akan disuplai pakan dari pabrik tersebut. Dan tentunya peternak diuntungkan. Stok pakan biasanya diambil dalam jumlah banyak untuk memenuhi kebutuhan ternak selama 1-2 minggu atau bahkan 1-2 bulan, begitu sangat diuntungkan dari sisi harga karena masih menganut harga pakan sebelumnya. Disatu sisi pabrik pakan menghendaki sistem pembayaran di awal atau biasa disebut cash before delivery (CBD). Bagi peternak skala besar (populasi >100.000 ekor) sistem tersebut tidak menjadi masalah. Sayangnya bagi mereka yang memiliki ternak skala menengah-ke bawah hal tersebut akan menjadi masalah. Oleh karena itu mereka mencoba untuk mensiasatinya.

Rantai hubungan antara peternak dengan konsumen (bakul)

Salah satu strategi peternak tersebut di atas adalah menjual telur kepada konsumen (partner bisnis) secara kontan yang mana biasanya dibayar kredit dalam tempo 1-2 minggu. Karena pembayarannya kontan maka, konsumen memanfaatkan kondisi tersebut untuk meminta potongan harga atau menawar harga yang lebih rendah dari harga telur di pasar saat itu. Akibatnya harga pasar mulai terganggu. Paradigma masyarakat saat itu seketika berubah dan terkena imbasnya kepada para peternak ayam petelur lain. Pedagang mulai meminta dengan harga murah karena telah didapati sebelumnya telur yang juga murah. Akhirnya peternak lain juga ikut menjual telurnya, termasuk peternak skala besar. Seolah-olah rantai suplai-chain meningkat dan peternak yang memusnahkan banyak telur. Jawabannya adalah TIDAK!

zia zannititah pawana (@kaptenzztp), fakultas peternakan dan pertanian universitas diponegoro | editor: sitoresmi fauzi

follow our twitter: @livestockreview