Membudidayakan Cacing Tanah

Livestockreview.com, Kampus. Cacing tanah merupakan hewan yang tidak bertulang belakang, lemah, tubuh licin dan berlendir, serta menggelikan dan menjijikkan. Bahkan banyak yang menganggapnya sebagai hewan tidak bermanfaat.

Namun anggapan itu ditepis oleh Pengajar Fakultas Peternakan IPB Verika Armansyah Mendrofa, S.Pt., M.Si. Hasil kajian yang telah ia lakukan bahkan menunjukkan sejumlah kelebihan cacing tanah, yakni kadar protein yang mencapai 64-76%, produk budi daya cacing terdiri dari cacing, pupuk cair, dan kascing (bekas cacing), harga jual berkisar Rp 40.000 – 120.000/kg di wilayah Bogor, serta laba bersih budi daya cacing tanah bisa mencapai Rp 9.647.540 per bulan dengan R/C 1,95.

Hal itu ia sampaikan dalam pelatihan online tentang satwa harapan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB, melalui sebuah aplikasi daring pada Sabtu, 15 Agustus 2020. Dalam acara itu, hadir pula narasumber penting lain yakni Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof. Dr. Dewi Apri Astuti, dan Dr Ir Salundik, Dosen Fakultas Peternakan IPB.

Terdapat sekitar 4.500 spesies cacing, dan kurang lebih 2.700 di antaranya adalah spesies cacing tanah. Jenis-jenis cacing tanah di dunia ini adalah Lumbricus rubellus, Perionyx excavatus, African Night Crawler, dan Eisenia fetida. Adapun spesies cacing tanah yang berkembang di Indonesia adalah jenis lumbricus rubellus, yang memiliki ciri-ciri panjang badan 7-9 cm, warna merah kecokelatan, pergerakan lambat, bentuk pipih, dan ekor tumpul berwarna kuning.

Verika menguraikan, media hidup atau pakan cacing tanah yakni dapat berupa limbah rumah tangga, rumah makan, pertanian, dan peternakan yang berupa bahan organik. Media hidup tersebut sebaiknya yang tidak berbentuk tajam, berduri, berbulu, asam, atau pedas, tidak mengandung minyak atau bahan kimia berbahaya, dan dalam kondisi sudah dicacah, serta lembab tapi tidak basah.

Pemanenan cacing tanah dilakukan ketika media sudah matang. “Tanda media matang yakni warna cokelat kehitaman, teksturnya gembur seperti tanah, bentuknya sudah berbeda dari media awal, dan derajat keasaman (pH) sekitar 7,” kata Verika.

editor: sugiyono | sumber: flpi

follow our ig: www.instagram.com/livestockreview





Spread the love

Leave a Reply