Membangun Lumbung Sapi Sejak dari Nol

Livestockreview.com, Tokoh. Jerih payah Sarjono menekuni bisnis penggemukan sapi terbayar saat dia mampu membangun rumah mewah di Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, Lampung. Bahkan, ia juga memiliki showroom sapi di rumahnya. Pembeli tinggal datang, memilih, dan jika cocok bisa langsung membawa pulang sapi pedaging yang ditawarkan. Tentu saja setelah transaksi jual beli selesai.

Ayah satu anak ini pernah dirumahkan tanpa pesangon pada 1998. Krisis moneter membuat pabrik distribusi makanan tempat Sarjono bekerja di Malang, Jawa Timur, tutup. Semua karyawan, termasuk dirinya, terpaksa di-PHK (pemutusan hubungan kerja).

Tak mau terpuruk dalam kemiskinan, dia berupaya mencari pekerjaan lain di Palembang, Sumatera Selatan. Sarjono sempat bekerja di panglong kayu selama setahun sebelum pindah dan menetap di Lampung.

Awalnya, Sarjono mengikuti keinginan istri untuk tinggal dekat dengan orangtuanya. Sayangnya, mendapatkan pekerjaan di desa ternyata tak semudah membalik telapak tangan.

Sarjono hanya melihat banyak warga desa yang memelihara sapi di kandang, termasuk mertuanya. Namun, Sebagian besar warga memelihara sapi hanya untuk simpanan. Tak banyak yang menjadikannya sebagai usaha peternakan yang kontinu.

Naluri bisnis Sarjono pun muncul. Dia melihat peluang bisnis peternakan sapi potong di desa itu. Dengan bantuan modal dari keluarga, Sarjono mulai memelihara tiga ekor sapi.

Pada awal merintis bisnis, Sarjono sempat kewalahan. Selain tak punya pengalaman, pekerjaannya juga sering dianggap sebelah mata. Namun, tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus menafkahi istri membuatnya tetap menekuni pekerjaan itu. Untuk menambah panghasilan, dia juga menanam padi.

Beruntung, perusahaan peternakan sapi Great Giant Livestock (GGL) sudah lama mendampingi warga Desa Astomulyo. Hal itu dimanfaatkan Sarjono untuk mempelajari ilmu beternak sapi dari ahlinya. Gayung bersambut, manajemen perusahaan juga amat terbuka dan merangkul warga untuk kerja sama dengan sistem bagi hasil.

Dia tertarik bermitra dengan GGL karena kerja sama yang ditawarkan saling menguntungkan. Sebagai contoh, harga jual sapi tidak semata ditentukan oleh perusahaan, tetapi mengikuti harga jual daging sapi di pasaran. Peternak juga mendapat keuntungan yang setara dengan perusahaan.

Awalnya, Sarjono mendapat jatah 10 ekor sapi dari perusahaan untuk dipelihara. Setiap bulan, peternak mendapat pasokan pakan berupa konsentrat dan kulit nanas.

Setelah berbobot 500-600 kilogram, sapi dijual dan keuntungannya dibagi dua. Keuntungan itulah yang Sarjono putar kembali untuk memperbanyak sapi. Kini, Sarjono memelihara sekitar 300 ekor sapi. Sebagian sapi merupakan milik perusahaan dan investor lain yang menitipkan modal usaha padanya.

Sapi-sapi itu dipelihara selama 5-6 bulan. Harga penjualan sapi juga baik, berkisar Rp 20 juta-Rp 22 juta per ekor. Risiko beternak sapi pedaging juga relatif kecil dengan angka kematian yang rendah. Dari bisnis penggemukan sapi itu, Sarjono bisa naik haji hingga dua kali. Dia juga bisa membangun rumah mewah dan membangun showroom sapi di halaman rumahnya.

Dengan begitu, dia tak perlu repot menjual sapi ke pasar. Pembeli langsung datang dan mengangkut sapi dari rumahnya. Konsumennya kini menyebar di beberapa daerah di Sumatera dan Jabodetabek. Bagi Sarjono, kesuksesan yang diraihnya itu membutuhkan perjuangan panjang. Sebagai bentuk syukur, Sarjono merangkul pemuda pengangguran yang ingin mengubah nasib seperti dirinya.

”Saya merasa tersesat di jalan yang benar. Dulu, saya pernah berjanji, jika bisa keluar dari lubang kemiskinan, saya ingin berkontribusi memberdayakan masyarakat di desa,” kata Sarjono.

Harus dikelola dengan baik

Sejak 2016, Sarjono aktif mengajak pemuda yang masih pengangguran untuk berbisnis sapi. Hal itu dilakukan setelah Sarjono merasa dapat membuktikan bahwa bisnis sapi amat menjanjikan jika dikelola dengan baik.

”Dulu, banyak yang merendahkan pekerjaan beternak sapi karena dianggap tidak menjanjikan dan kotor,” ucapnya. Belasan pemuda desa akhirnya tertarik menjadi peternak. Lewat Kelompok Ternak Limousin yang dia ketuai, Sarjono menjembatani pemuda desa untuk bisa bermitra dengan PT GGL.

Sebagai orang yang sudah malang melintang berbisnis sapi, Sarjono tak segan berbagi pengalaman kepada para peternak muda. Dia juga membuka pintu rumahnya 24 jam jika ada peternak pemula yang ingin berkonsultasi tentang manajemen bisnis penggemukan sapi.

Kini, para peternak muda binaan Sarjono bisa berbisnis secara mandiri dengan mengakses permodalan dari perbankan. Dengan begitu, mereka tidak harus bergantung pada perusahaan untuk mengembangkan bisnis.

Selain kejujuran dan etos kerja, kalau punya rejeki, harus diinvestasikan dan membantu orang-orang sekitar. Kinginan Sarjono untuk memberdayakan pemuda desa semakin kuat saat dia bertemu langsung dengan Husodo Angkosubroto, pemilik Gunung Sewu Holdings Company. Grup perusahaan itu sukses mengelola bisnis di sektor agrobisnis, salah satunya daalah PT GGL yang bermitra dengan Sarjono.

Saat itu, Sarjono punya kesempatan bertanya tentang rahasia sukses pada Husodo. ”Selain kejujuran dan etos kerja, kalau punya rejeki, harus diinvestasikan dan membantu orang-orang sekitar,” ujar Sarjono mengenang ucapan Husodo.

Kini, sebagai praktisi peternakan yang andal, Sarjono kerap diminta mengisi seminar untuk membagikan pengalamannya. Itulah Sarjono, seseorang yang memilih bertahan di desa. Dia menyadari, seluruh potensi untuk berkembang dan maju ada di depan mata. Persoalannya, tinggal seberapa besar kepekaan untuk mengangkat sapi sebagai komoditas yang berkelas.

editor: sugiyono | sumber: kcm

follow our ig: www.instagram.com/livestockreview

Spread the love

Leave a Reply