Kontroversi Sapi Belgian Blue

Livestockreview.com, Referensi. Jajaran kementerian pertanian dan akademisi terkait terlihat sibuk belakangan ini dalam rangka mewujudkan visi negara untuk swasembada atau ketercukupan daging. Segala upaya dilakukan mulai dari meningkatkan produktifitas ternak pedaging sampai memperbesar populasi ternak terutama sapi. Program yang santer gaungnya diantaranya SIWAB atau sapi induk wajib bunting, persilangan antar bangsa sapi, impor sapi pejantan unggul, pengembangan bioteknologi reproduksi serta pembentukan bangsa sapi baru. Satu hal yang menarik perhatian adalah dikaitkannya hampir semua program tersebut dengan bangsa sapi yang special bernama Belgian Blue (BB).

Lalu apa sebenarnya sapi BB ini? Sapi BB adalah sapi dari bangsa Bos taurus yang berasal dari Belgia. Sejarah BB cukup kompleks, namun, yang secara spesifik menjadi topik hangat di sektor peternakan di Indonesia adalah sapi BB double muscling (DM-BB) atau yang memiliki perototan ganda. DM-BB memiliki tubuh bak binaragawan dengan perototan yang ekstra. Sapi inipun diminati karena produksi daging per ekor yang sangat baik dan dagingnya berkualitas tinggi.

Tidak tanggung-tanggung, jajaran direktorat jenderal peternakan, hingga Gubernur Jawa Barat dan Jawa Timur pun meng-endorse bangsa ini untuk segera disebarluaskan ke peternak rakyat. Kabar terakhir menyebutkan bahwa sperma yang siap digunakan untuk inseminasi buatan sudah tersedia sekitar 7000 dosis. Satu pertanyaan muncul: “Jika memang begitu superior, mengapa sapi ini tidak populer di kalangan negara-negara produsen hasil ternak seperti Amerika Serikat atau Australia?”. Jawaban singkatnya akan diuraikan di bawah ini.

Sifat double muscling pada DM-BB berasal dari mutasi pada gen myostatin (MSTN) yang berfungsi untuk meregulasi perototan. Mutasi ini menyebabkan gen MSTN tidak berfungsi sehingga tumbuh kembang otot tidak terkontrol dan muncullah perototan ganda. Namun, perlu diingat bahwa otot itu tidak hanya ada pada daging.

Seluruh organ tubuh tersusun dari otot. Dapat dibayangkan jika contohnya, pembuluh darah memiliki otot ganda maka otomatis saluran untuk lewatnya darah menjadi lebih kecil dan aliran darah menjadi tidak normal. Sapi DM-BB juga membutuhkan dukungan lingkungan yang sangat ideal, pakan dan hijauan dengan kualitas super serta perawatan kelas bintang lima; karena jika tidak, sapi ini tidak akan dapat memiliki performa seperti yang diharapkan.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat telah menyebutkan bahwa carrying capacity dari peternakan dan ladang penggembalaan disana tidak memenuhi standar untuk dapat memelihara DM-BB secara optimal. Lalu, mampukah kita menyediakan fasilitas tersebut?

Ditambah lagi fakta bahwa kebanyakan peternak rakyat adalah pemanen pedet. Artinya bahwa peternak memelihara sapi betina untuk kemudian dikawinkan lewat kawin suntik dan hasil yang mereka peroleh adalah pedet atau anak sapi. Maka apa yang akan terjadi jika DM-BB dilepas ke masyarakat dan beberapa generasi kemudian mutasi MSTN terwariskan pada sapi-sapi betina milik peternak rakyat?

Beberapa penelitian di Eropa dan Amerika utara melaporkan bahwa sapi betina berperototan ganda memiliki kesulitan melahirkan sehingga harus opeasi caecar pada setiap kelahiran. Jika hal ini terjadi, kerugian yang akan dialami oleh peternakan rakyat tidak terbayangkan. Selain itu, kerusakan sumber daya genetik sapi lokal kita yang sebagian memang sudah rusak akan semakin parah.

Sebuah tim peneliti dari dua Universitas di Jawa Tengah dan DIY telah mencoba menyusun sebuah artikel tentang potensi ancaman penyebaran DM-BB bagi populasi sapi Indonesia jika dilepas ke masyarakat (dapat disimak di: www.agropustaka.id). Namun agaknya artikel ilmiah semacam itu kurang mendapat perhatian. Sekarang kita kembalikan kepada pemangku tanggung jawab yang baru saja dilantik, akankah Kementerian Pertanian mempertahankan program introduksi DM-BB ini ke masyarakat peternak rakyat? Akankah kelebihan 20-30% daging DM-BB sebanding dengan kerusakan sapi betina produktif akibat tersebarnya mutasi MSTN?

follow our ig: @livestockreview

sumber: nwidyas (kompasiana)  | editor: apriliawati



Spread the love

Leave a Reply