Kisah Hidup Para Sontoloyo

0
139

Livestockreview.com, News. Sebaiknya Jangan asal ngomong tentang sontoloyo, jika tak tahu yang sebenarnya. Jangan pula asal menyebut sontoloyo untuk menilai suatu tabiat yang buruk. Sontoloyo sungguh sebuah pekerjaan mulia yang membutuhkan disiplin tinggi, ketekunan dan kesabaran.

Sontoloyo adalah sebutan untuk para pengangon bebek. Entah sejak kapan, profesi mulia itu sering dikaitkan-kaitkan dengan tabiat buruk. Seperti halnya bajingan, entah sejak kapan orang mulai memaki menggunakan sebutan bagi pengemudi gerobak itu.

Ingin tahu seperti apa kehidupan sontoloyo? lihatlah kisah hidup Mbah Dasar (60) di Rembang. Dia memilih berprofesi sebagai sontoloyo yang menurutnya sebagai pilihan paling tepat untuk tetap aktif di masa tuanya. Saat dikunjungi di rumahnya di Desa Sidowayah Kecamatan kota Rembang misalnya, Mbah Dasar mengaku sudah melakoni aktifitasnya sebagai sontoloyo sejak belasan tahun. Ia menjadi sontoloyo mengikuti salah seorang rekannya yang lebih dulu menekuni profesi itu.

“Saya awalnya dulu lihat teman saya orang Pati, dia juga begini (menjadi sontoloyo). Saya dulunya buruh tani, kemudian coba-coba jadi (sontoloyo) ini. Pekerjaan ini cocok buat saya yang sudah tua begini. Tenaga juga tidak terlalu maksa, yang penting ada waktu buat ngurusi bebek-bebek ini,” kata Mbah Dasar.

Suka duka sebagai sontoloyo pun sudah banyak dirasakan Mbah Dasar. Mulai dari meraup keuntungan yang besar ketika harga telur bebek naik dan produksinya melimpah, sampai pernah ratusan bebek yang ia ternak mati karena serangan flu burung. “Awalnya dulu saya ngangon sekitar 180-an ekor bebek. Sekarang ada sekitar 400 lebih ekor di kandang saya ini. Sempat sampai tembus 900 ekor, tapi karena saat itu harga pakan naik, kemudian saya juali bebek saya,” tuturnya.

Setiap pagi secara rutin ia menyambangi bebek-bebeknya untuk mengecek kondisi bebek, sekaligus membersihkan kandang. Di siang hari ia membawakan makanan berupa potongan ikan untuk bebeknya. Setelah itu ia menggiring ratusan bebeknya ke sungai untuk minum dan mandi.

“Intinya ngurusi bebek itu tepat waktu. Jam sekian harus ke kandang dan itu harus rutin tiap harinya. Ngangon juga, itu kan kalo ngangon biar produksi telurnya makin banyak. Ya saya sendiri lakukan,” terangnya. Butuh disiplin tinggi, ketekunan dan kesabaran untuk untuk profesi ini.

Follow our Instagram:@livestockreview

sumber: detik | editor: soegiyono