Kasus Kematian Babi Sumatera Utara (IV): Belajar dari Flu burung

Livestockreview.com, Referensi. Indonesia telah mengalami wabah penyakit flu Burung pada unggas tahun 2003. Desakan kepada pemerintah agar segera mengumumkan wabah flu burung saat itu, tidak sama dengan tuntutan beberapa pihak terkait kematian Babi saat ini.

Pihak otoritas seyogianya mengkaji secara komprehensif deklarasi suatu penyakit. Tentunya ruang masyarakat akan berbeda dengan ruang laboratorium tatkala menemukan kajian baru.

Pertama virus flu burung ditularkan melalui udara; sedangkan DBA melalui kontak baik langsung maupun melalui produk-produknya; Kedua, kematian sudah mencapai jutaan unggas yang mengancam industri perunggasan nasional; sementara peternakan babi bisa dilokalisasi sesuai tempat kejadiannya; Ketiga, virus flu burung berpotensi menular dan fatal pada manusia, sementara virus DBA belum dilaporkan berisiko pada manusia.

Munculnya wabah demam berdarah babi di Sumatra Utara belum mendesak untuk dideklarasikan sebagai wabah nasional. Mengingat kematian bukan satu-satunya oleh virus DBA, tetapi secara konfirmasi oleh virus DBK.

Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan wabah kematian babi tersebut. Termasuk imbauan agar pemerintah membantu mangatasi kerugian peternak, sebagai suatu alternatif, tanpa harus dikaitkan dengan wabah demam berdarah babi. (HABIS)

follow our ig: www.instagram.com/livestockreview

penulis: c.a nidom, guru besar fkh unair, surabaya | sumber: kompas




Spread the love

Leave a Reply