Industri Perunggasan Setelah Pandemi

Livestockreview.com, Opini. Masa pandemi akan memasuki bulan keempat sejak pasien pertama Covid-19 diumumkan pada tanggal dua maret 2020. Virus tersebut berdampak besar terhadap semua sektor, termasuk industri pangan. Ada kekhawatiran terjadi kekurangan pasokan bahan pangan.

Food Agriculture Organization (FAO) atau badan pangan dunia memberikan peringatan bahwa krisis pangan mungkin akan terjadi akibat distribusi pasokan yang terganggu dan pembatasan tenaga kerja. Kementerian Pertanian Indonesia menyatakan persediaan pangan di Indonesia masih aman. Akan tetapi, belum jelas kapan berakhirnya Covid-19 harus menjadi kewaspadaan supaya ketersediaan pangan benar-benar aman dan dapat diakses oleh semua orang.

Sekitar 50 persen pengeluaran rumah tangga digunakan untuk kebutuhan pangan. Semua orang pasti membutuhkan pangan meskipun #dirumahaja. Kebutuhan bahan pangan sumber protein hewani terbesar di Indonesia berasal dari sektor perunggasan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, konsumsi masyarakat Indonesia untuk daging ayam mencapai 12 kg/kapita/tahun dan 125 butir/kapita/tahun untuk telur, sedangkan daging sapi hanya 2,5 kg/kapita/tahun.

Industri perunggasan memiliki peran besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Lalu, bagaimana gejolak industri tersebut dengan adanya pandemi Covid-19?

Pandemi dan industri perunggasan

Pandemi Covid-19 memaksa kita memasuki era social distancing atau pembatasan sosial. Aksi #dirumahsaja menyebabkan permintaan produk perunggasan secara signifikan mengalami penurunan. Padahal menjelang puasa atau lebaran, permintaan daging dan telur ayam biasanya meningkat. Penurunan permintaan berdampak terhadap over supply, sehingga harga daging dan telur ayam di pasaran anjlok. Harga ayam hidup (livebird) terendah mencapai Rp 5.500-8.000 per kg dan Rp 11.000-12.000 untuk telur. Di sisi lain, HPP (harga pokok produksi) berada dikisaran Rp 18.000-19.000 per kg, baik ayam maupun telur ayam.

Di bagian hilir, pandemi Covid-19 menyebabkan kenaikan harga bahan baku pakan. Meskipun jagung dipasok dalam negeri, namun bungkil kedelai, Corn Gluten Meal (CGM), Meat Bone Meal (MBM), dan premix masih mengandalkan impor. Terlebih banyak bahan baku yang sebelumnya didatangkan dari China yang merupakan asal Covid-19, akibatnya banyak bahan baku sulit ditemukan di pasaran. Pelemahan rupiah dan gangguan distribusi mengakibatkan harga bahan baku semakin tinggi. Pakan tentu akan berpengaruh besar terhadap nilai HPP. Apabila kondisi terus berlangusng akan menyulitkan peternak, terlebih ditambah serapan pasar untuk produk perunggasan yang menurun.

Tidak sedikit peternak yang menghentikan kegiatan produksi karena merugi. Akibatnya banyak tenaga kerja yang terancam dirumahkan. Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) melaporkan bahwa sektor peruggasan skala UMKM memberikan kontribusi besar terhadap penyediaan 12 juta lapangan pekerjaan. Pandemi Covid-19 tidak sekedar mengancam produksi pangan, akan tetapi bisa meningkatkan pengangguran.

Kondisi yang disebutkan tadi, apabila terus berlangsung tentu akan mengakibatkan produksi bahan pangan dari industri perunggasan dapat menurun. Meskipun Kementerian Pertanian melaporkan bahwa persediaan daging dan telur ayam aman untuk periode Maret-Mei 2020. Produksi ayam ras hingga Mei diperkirakan 1.721.609 ton, sedangkan kebutuhan 1.450.715 ton. Masih terdapat surplus 270.894 ton. Produksi telur mencapai 2.084.641 ton dengan kebutuhan 2.059.735 ton, sehingga surplus 24.906 ton. Dinamika pada bagian produksi yang lesu akibat pandemi Covid-19 akan berdampak terhadap pasokan. Memang sampai bulan Mei terdapat surplus pasokan, akan tetapi bagaimana setelahnya?

“New Normal”

Kapan berakhirnya pendemi? Belum terdapat prediksi yang pasti. Berdasarkan analisis Singapore of Technology and Design (SUTD), kondisi pandemi di Indonesia baru akan berakhir pada Oktober 2020. Meskipun data tersebut sekedar perhitungan matematika dan terdapat banyak kemungkinan eror bila dibandingkan kondisi nyata. Pandemi Covid-19 akan berakhir apabila vaksin telah ditemukan. Namun, hingga saat ini vaksin untuk menangkal Covid-19 belum siap walaupun terdapat beberapa lembaga penelitian dunia sudah sampai tahapan klinis. Ada yang menyebutkan bahwa vaksin baru siap tahun depan. Melihat kondisi berakhirnya pandemi yang masih lama muncul pertanyaan besar, apakah kita akan stay at home terus?

Pemerintah belum lama ini mulai mengkampanyekan New Normal yakni sebuah kehidupan yang dijalankan seperti biasanya, akan tetapi menggunakan protokoler kesehatan. New normal juga akan berlaku pada semua kegiatan industri, tidak terkecuali industri perunggasan. Menghasilkan produk prunggasan untuk memenuhi kebutuhan dengan menormalkan keadaan pandemi.

Kembali pada keadaan normal atau memasuki era new normal tentu membutuhkan persiapan. Aktivitas manusia mulai dijalankan kembali, meskipun tidak seperti dulu sebelum pandemi. Keadaan ini tentu akan menyebabkan kebutuhan pangan meningkat, dari sebelumnya yang sempat menurun. Akan tetapi, produksi yang sempat berkurang akibat banyak peternak merugi, sepertinya membuat perputaran industri peternakan unggas membutuhkan waktu.

Belajar dari kasus di Wuhan, China, terjadi kelangkaan produk pangan menjelang berangkhirnya lockdown. Hal tersebut disebabkan banyak orang berhenti bekerja dan ongkos pengiriman bahan pangan meningkat. Meskipun Indonesia tidak melakukan lockdown, akan tetapi penurunan harga daging dan telur ayam diawal pandemi menyebabkan banyak peternak berhenti produksi atau gulung tikar. Apabila permintaan langsung meningkat sementara kegiatan produksi belum normal, dikhawatirkan akan mengalami peningkatan harga yang tinggi akibat ketersedian bahan baku yang terbatas.

Langkah antisipasi diperlukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku tetap seimbang, supaya tidak ada gap terlalu jauh antara kebutuhan dan persediaan ketika memasuki new normal. Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan supaya kebutuhan pangan asal industri perunggasan tetap terjaga. Pertama, optimalisasi peran data secara real time. Data produksi dan kebutuhan perlu diupdate berdasarkan kondisi setelah pandemic atau new normal. Selain itu juga diperlukan prediksi kenaikan permintaan bahan baku pangan pasca pandemi. Adanya teknologi big data, sangat memungkinkan pendataan permintaan dan persediaan bahan baku pangan dilakukan secara real time. Pendataan ini menjadi penting supaya tidak terjadi kekurangan yang extreme atau over supply.

Kedua, untuk menggairahkan peternak kembali beternak adalah pemberian stimulus pendanaan akibat pandemi. Pemerintah meggelontorkan dana mencapai 450,1 T untuk penanganan kasus Covid-19. Lebih dari itu, prioritas nomer empat adalah anggatan 150 T untuk stimulus program pemulihan ekonomi. Peternakan perlu mendapat perhatian lebih, mengingat serapan tenaga kerja dari sektor ini cukup banyak. Stimulus pembiayaan peternak di level UMKM akan mengembangkan ekonomi secara produktif dengan menurunkan angka pengangguran.

Ketiga, optimalisasi peran bulog dalam menyerap produk perunggasan untuk membantu stabilisasi harga apabila produk berlebih. Bulog menjadi kunci dalam menghasilkan win-win solution antara peternak dengan konsumen. Bulog dapat membantu penyediaan pangan pangan akibat daya beli masyarakat yang rendah melalui mekanisme bantuan sosial selain uang. Memang lebih ribet, akan tetapi memiliki dampak yang lebih besar, tidak hanya ke masyarakat tetapi juga peternak. Selain itu, juga mengamankan stok bahan pangan asal industri perunggasan.

Terlepas dari kondisi apapun, industri pangan akan selalu dibutuhkan untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Sektor perunggasan harus tetap produksi untuk memastikan pasokan bahan pangan daging dan telur tetap aman. New normal adalah tetap produksi ditengah pandemi. Oleh karena itu, kebijakan yang memihak peternak sangat diperlukan supaya produsen dan konsumen tidak ada yang dirugikan.

Muhsin Al Anas | Dosen Fakultas Peternakan UGM | Koorbid IV Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia





Spread the love

Leave a Reply