Indonesia Surplus Jagung Tapi Kok Harus Impor, Salah Siapa?

Livestockreview.com, News. Indonesia memutuskan untuk mengimpor paling banyak 100.000 ton jagung karena harga komoditas itu diketahui tinggi di sejumlah wilayah. Tingginya harga antara lain diketahui terjadi di Blitar, Jawa Timur. Hal itu dikatakan sendiri oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman.

“Kenapa impor? Peternak Blitar yang minta. Bahkan demo, ada 2 juta lebih peternak yang harus dilindungi,” kata Mentan, Kamis (8/11/2018). Sementara itu pada 9 November 2018, Kementerian Pertanian mempublikasikan bahwa volume produksi jagung di dalam negeri terus bertambah.

Pada 2014, volume produksi tercatat 19 juta ton, lalu pada 2015 meningkat menjadi 19,6 juta ton, kemudian pada 2016 menjadi 23,6 juta ton dan 2017 mencapai 28,9 juta ton. Amran mengatakan pada tahun ini, diperkirakan produksi jagung terus bertambah menjadi 30 juta ton. “Dengan kerja keras dan upaya khusus yang terus dilakukan Kementan pada tahun 2018 ini diperkirakan potensi produksi jagung lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu sebesar 30 juta ton,” jelas Amran dalam siaran pers, Jumat (9/11/2018).

Adapun Kementan diketahui juga menyatakan surplus jagung saat ini mencapai 13 juta ton, seperti yang diutarakan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution.
Namun, di tengah data yang menyatakan tren produksi naik disertai surplus, tiba-tiba saja Indonesia memutuskan mengimpor maksimal 100.000 ton jagung. Permintaan itu juga berasal dari Kementan. Kementan mengatakan bahwa impor diperlukan untuk menekan harga jagung menjadi Rp 4.000/kg, di mana saat ini mencapai di atas Rp 5.000/kg.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendriadi mengatakan distribusi jagung tidak merata sehingga membuat harga menjadi tinggi. Menurutnya, sentra produksi jagung dan industri pakan ternak terletak di lokasi yang berjauhan. Oleh karena itu, kata dia, Kementan akan berupaya membangun industri pakan ternak lebih dekat dengan sentra produksi jagung. Agung menegaskan, pemerintah harus hadir mengatasi kendala distribusi logistik jagung ini supaya masalah ini tidak terulang kembali di masa depan.

Dia juga mengatakan bahwa program BBM satu harga juga bisa menjadi contoh sukses bagi sektor jagung nasional. “Bulog [Badan Urusan Logistik] kalau dikasih uang pasti bisa. Pemerintah memang harus mau keluarkan anggaran itu. Kami siap, BKP siap. Berikan kami anggaran dan kami distribusikan ke daerah pelosok. Gratis pengiriman. Jangan dibiarkan saja seperti ini,” katanya.

Follow our Instagram:@livestockreview

sumber: cnbc | editor: soegiyono

Spread the love

Leave a Reply