Impor Daging Sapi yang Sia-sia

Livestockreview.com, Referensi. Memasuki bulan puasa ramadan tahun ini, pemerintah dipusingkan dengan semakin tingginya harga sejumlah bahan pokok, khususnya daging sapi. Badan Urusan Logistik (Bulog) lambat dalam mengimpor daging tersebut. Harga daging di pasaran pun merambat naik dan sempat mencapai di atas Rp100.000 per kg, dari harga normal sekitar Rp70.000 per kg. Kemenko Perekonomian menuding kelambanan ini akibat kementerian teknis, yaitu Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan lambat dalam memberikan rekomendasi dan izin kepada Bulog untuk melaksanakan impor.

Ijin impor untuk Bulog ini sebenarnya telah keluar sejak 3 bulan lalu. Atas keputusan dari Kemenko Perekonomian tersebut, kementerian teknis dalam hal ini Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan harus segera memberikan rekomendasi dan izin kepada Bulog untuk melaksanakan impor. Sayangnya, izin dan rekomendasi tersebut tidak segera datang, sehingga pasokan tambahan daging menjadi terlambat dan harga keburu naik. Bulog mendapatkan Rekomendasi Persetujuan Pemasukan (RPP) dari Kementerian Pertanian pada 25 Juni 2013 dan Surat Persetujuan Impor (SPI) dari Kementerian Perdagangan sehari sesudahnya.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan kementeriannya baru mengeluarkan Surat Persetujuan Impor (SPI) sejak akhir Juni lalu, karena menunggu Kementan yang menerbitkan Rekomendasi Persetujuan Pemasukan (RPP).

Keterlambatan impor oleh Bulog, sebenarnya lebih disebabkan aspek pemenuhan persyaratan oleh Bulog seperti tertuang dalam Permentan No. 50/2011 tentang Rekomendasi Persetujuan Pemasukan Karkas Daging, Jeroan dan atau Olahannya.

Dari kasus ini kita merasa kerja sama antarkementerian ini terlihat tidak sinkron, sehingga bila terjadi masalah yang muncul adalah saling tuding. Pimpinan pemerintahan, dalam hal ini adalah presiden Susilo tampak tidak berkutik, hanya bisa marah kepada bawahannya. Harusnya presiden langsung koordinasi dengan para menteri-menterinya untuk mengatasi hal ini.

Akibat kerja yang tidak sinergis antar departemen, Bulog terpaksa mengimpor daging dengan menggunakan pesawat udara, yang pasti ongkosnya menjadi sangat mahal bila dibandingkan dengan menggunakan kapal laut. Efeknya, masyarakat pun kini juga harus membeli daging dengan harga tinggi karena operasi pasar Bulog belum bisa dilaksanakan mengingat impornya belum sampai ke Indonesia. Daging impor Bulog diperkirakan baru sampai Tanjung Priok pada 25 Juli atau lebih dari 2
pekan setelah puasa hari pertama.

Belajarlah dari strategi bisnis peternakan ayam
Sayang sekali, gebrakan pemerintah untuk meredam harga daging sapi dengan cara impor menjadi sia-sia hanya karena karena hal teknis yang tidak bisa dilakukan oleh pemerintahan yang dipimpin presiden Susilo ini.

Masalah impor daging Bulog ini harusnya bisa menjadi pengalaman bagi pemerintah untuk berani melakukan gebrakan dan melakukan hal yang out of the box, selama hal itu tidak bertentangan dengan aturan dan demi kepentingan masyarakat luas. Apabila pemerintah mampu meredam lonjakan harga daging sapi menjelang puasa, bisa jadi pemerintah juga mampu meredam kenaikan harga bahan pokok lainnya yang biasanya harganya juga melonjak.

Sebut saja telur dan daging ayam. Strateginya adalah, tidak melulu mengandalkan impor. Namun, dengan perencanaan yang baik, pasokan komoditas tersebut bisa ditingkatkan menjelang masa tersebut, sehingga harga tidak melonjak.

Para pelaku bisnis sudah tahu bahwa menjelang puasa pasti terjadi kenaikan sejumlah bahan pokok yang disebutkan tadi. Dengan demikian, pemerintah bisa menambah pasokan sebanyak yang diperlukan sehingga kendati terjadi kenaikan permintaan, tidak menyebabkan harga naik signifikan. Akankah pemerintahannya Susilo Bambang ini mau belajar dari pengalaman ini? Dijawab sendiri yaaa,,,, 🙂

penulis: arieta (sumber bisnis) | editor: diana mandagi

follow our twitter: @livestockreview

 

Spread the love

One thought on “Impor Daging Sapi yang Sia-sia

Leave a Reply