Impor bibit ayam Grand Parent Stock (GPS) tahun 2014 ini naik 11,5%

0
460

Livestockreview.com, Bisnis. Impor bibit nenek atau grand parent stock (GPS) tahun 2014 ini diperkirakan akan mencapai 725.000 ekor. Angka tersebut meningkat 11,53% dibanding kebutuhan GPS tahun 2013 yang diperkirakan mencapai 650.000 ekor.

Proyeksi impor GPS tahun ini sebesar 725.000 ekor lantaran permintaan daging ayam diprediksi bakal terus meningkat pada tahun 2015. “Perkiraan saya, impor bibit indukan ayam tahun ini sekitar 700.000-725.000 ekor. Kalau sama seperti 2013 yang 650.000 ekor, bisa jadi suplai parent stock (PS) akan kurang lagi,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPU) Chandra Gunawan.

GPS adalah jenis bibit ayam yang akan menghasilkan ayam indukan (parent stock). PS inilah yang nantinya bakal menghasilkan day old chicken (DOC) atau bibit ayam yang bakal menjadi ayam potong yang dikonsumsi atawa final stock (FS) yang akan dijual ke pasar.

Satu ekor GPS akan menghasilkan sekitar 35 ekor ayam indukan (PS). Satu ekor ayam indukan akan menghasilkan sekitar 135 ayam siap konsumsi (ayam FS) dalam satu kali masa bertelur. “Produksi parent stok tidak serta merta akan menghasilkan final stock,” jelas Chandra.

Chandra mencontohkan, impor GPS yang dilakukan di 2013 memang sudah mempengaruhi produksi ayam konsumsi (FS) tahun ini. Tapi, produksi tertinggi akan terjadi 2015 nanti. “Biasanya dampak dari impor GPS terhadap terhadap produksi final stock sekitar tiga tahun,” kata Chandra.

Selain GPS, tahun lalu Indonesia juga mengimpor ayam indukan (PS) sekitar 100.000 ekor. Untuk tahun ini, Chandra memperkirakan tidak ada impor ayam indukan baru. “Kemungkinan hanya beberapa breeding yang tahun lalu belum impor, memundurkan realisasi impornya ke tahun ini,” ungkap Chandra.

Menurut Chandra, tahun 2013 impor ayam indukan sekitar 350.000 hingga 500.000 ekor. Namun, realisasi impornya hanya sekitar 100.000 ekor. Sisanya, kemungkinan baru akan direalisasikan pada tahun ini. Tapi, kata Chandra, biasanya breeding akan mencari dari lokal terlebih dulu, karena impor PS lebih rumit.

Harga PS lokal juga jauh lebih murah. Harga PS impor bisa US$ 5 per ekor sementara PS lokal harganya dibawah US$ 3 per ekor. Tetapi tahun ini harga ayam indukan ini diperkirakan akan ikut terkerek akibat kenaikan harga pakan dan harga GPS yang naik setiap tahun. “Tahun lalu harga PS lokal sekitar Rp 28.000 per ekor, sekarang Rp 30.000 per ekor,” kata Chandra.

Pengusaha pembibitan unggas memperkirakan, produksi ayam indukan (PS) tahun ini akan mencukupi kebutuhan sehingga mereka tidak perlu impor. Cuma, ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi produksi ayam indukan, yakni cuaca dan harga. Dengan cuaca seperti ini, stok PS yang semula cukup bisa berkurang karena terserang penyakit atau karena faktor lainnya.

Sementara itu, harga ayam indukan akan tergantung pada harga DOC dan ayam hidup atau live bird (LB). “Kalau harga LB jelek, harga DOC juga jelek terus-terusan, produsen akan menolak atau apkir ayam indukan (PS) lebih awal. Nah kalau ditolak diawal, permintaan PS akan bertambah, tapi tidak bisa segera dipenuhi dengan cepat karena GPS masih kurang.

Tahun ini pengusaha bibit unggas memperkirakan produksi DOC final stock mencapai 2,48 miliar ekor, setara dengan ayam hidup yang beredar di pasaran. Namun, dengan catatan tidak ada kendala penyakit dan kematian.

sumber: livescience | editor: sitoresmi fauzi

follow our official twitter: @livestockreview  |  follow our official instagram: livestockreview