Bungkil Inti Sawit (BIS) dan Potensi Penggunaannya untuk Bahan Baku Pakan

Livestockreview.com, News. Palm Kernell Meal (PKM) merupakan bungkil inti sawit (BIS) yang diperoleh dari hasil sisa ekstrasi minyak dengan menggunakan pelarut kimia. Kandungan minyaknya tergolong rendah, yakni sekitar 2 % dengan kandungan protein 16 – 18 % yang juga dirasa rendah.

Adapun Palm Kernell Cake (PKC), adalah bungkil inti sawit dari hasil sisa ekstrasi minyak dengan menggunakan tekanan atau pemerasan. Kandungan minyaknya terbukti lebih tinggi dibanding PKM, yaitu sekitar 8 %. Namun, ternyata jumlah proteinnya jauh lebih rendah dari PKM, hanya 14 – 16 % saja.

Hal itu dijelaskan oleh Prof. (R) Arnold P. Sinurat, Ph.D., Peneliti Senior Balai Penelitian Ternak pada saat penyelenggaraan Zoominar AINI ke-8 yang mengangkat tema “Optimalisasi Pemakaian Palm Kernel Meal dalam Pakan Unggas, Babi dan Ikan” pada Kamis, 1 Oktober 2020 lalu.

Acara diselenggarakan oleh Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) dan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum AINI Prof Nahrowi, dengan menghadirkan narasumber penting lain yakni drh. Agus Prastowo (Technical Manager Elanco Indonesia). Zoominar dipandu ole Dewan Pengurus Pusat AINI Dr. Mursyid Ma’sum.

Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan di banyak perguruan tinggi, bungkil inti sawit mengandung banyak nutrien bermanfaat. Adanya kandungan lain berupa betakaroten, vitamin A dan vitamin C yang cukup tinggi juga menambah nilai dari bungkil inti sawit. Namun di sisi lain, harus diwaspadai pula adanya berbagai zat antinutrisi yang terkandung di dalamnya. Zat anti nutrisi adalah senyawa kimia yang ada dalam bahan secara alami. Fungsinya, adalah sebagai penghambat atau inhibitor penyerapan nutrien seperti phytic acid, tannin acid, oxalate, Non Strach Polysaccharide (NSP) yang terdiri dari mannan, galactomannan, xylan dan arabinoxylan.

Arnold menjelaskan, baik PKM maupun PKC aman dicampur di dalam formula pakan karena tidak mengandung endogenous toksin. Namun, apabila PKM diberikan kepada kambing dan domba dengan persentase lebih dari 50 %, maka akan menyebabkan keracunan chronic Cuprum. Jika keracunannya parah, bisa menyebabkan kematian karena terjadi hepatic necrosis.

Mengenai zat anti nutrisi seperti NSP, zat itu dapat meningkatkan kekentalan isi usus, sehingga akan menghambat penyerapan nutrisi. Kemudian, NSP menyerap air lebih banyak di dalam usus, sehingga volume air meningkat, tenak akan cepat merasa kenyang dan berakibat konsumsi pakan turun. Padahal, jika ditangani dengan baik, NSP bisa bermanfaat sebagai bahan baku pakan karena adanya kandungan β – mannan. Zat tersebut jika dapat diurai maka hasilnya adalah Mannan Oligosakarida (MOS) yang berguna sebagai prebiotik untuk bakteri yang menguntungkan di saluran cerna.

editor: listyorini | sumber: aini

follow our ig: www.instagram.com/livestockreview

Spread the love

Leave a Reply