Beternak untuk Kelangenan dan Penyegaran Batin

0
79

Livestockreview.com, Tokoh. Banyak cara bisa dilakukan para eksekutif untuk mendapatkan penyegaran di luar aktivitas pekerjaan sehari-hari. Direktur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) PT Bank Rakyat Indonesia, Djarot Kusumayakti memilih beternak sebagai kelangenan, aktivitas yang dekat dengan kehidupan masa kecilnya di Yogyakarta.

Hingga kini, Djarot masih aktif memelihara hewan, antara lain ayam dan kambing. “Saya berangkat dari desa. Sejak kecil memang sudah memelihara hewan-hewan di kampung. Pada suatu masa, saya harus berkonsentrasi penuh di pekerjaan dan anak-anak juga masih kecil. Sekarang, anak-anak saya sudah besar dan keluar dari rumah, jadi saya kembali intens menekuni hobi ketika saya kecil,” tutur Djarot.

Pria yang lahir di Bengkulu namun besar di Yogyakarta ini merasa mendapatkan penyegaran batin dan keluar dari rutinitas di pekerjaan. Menurutnya, pekerjaan dapat memberikan kepuasan, namun tidak bisa terus-menerus. Dia menilai, ada saatnya kesegaran batin dan fisik menurun dalam aktivitas sehari-hari, sehingga membutuhkan hobi.

Tidak hanya memberikan penyegaran batin, hewan-hewan ternak tersebut juga sebagian dijual kepada pedagang sehingga bisa memberikan imbal hasil untuk membiayai kelangsungan peternakan. Djarot dibantu oleh beberapa orang di peternakannya untuk menjaga kualitas dari hewan-hewan ternaknya. Para warga di sekitar rumah dan peternakannya di Yogyakarta juga memiliki aktivitas yang tidak jauh berbeda.

Djarot mengatakan, rata-rata dari mereka memiliki ternak kambing dan kolam untuk usaha mina (ikan konsumsi). Dia sering menghabiskan waktu untuk berbagi cerita dengan para petani dan peternak sekitar.

“Kehidupan di desa dan kota itu sangat berbeda. Para petani itu senang sekali kalau dapat untung Rp 1 juta saja. Sedangkan kalau di Jakarta, kita dapat untung Rp 10-20 juta itu rasanya biasa-biasa saja. Apalagi saya mengurus di UMKM BRI, saya merasa sangat perlu mendengar suara hati petani,” kata Djarot.

Menurut Djarot, situasi itu membuat gambaran kebahagiaan, cara berterima kasih, dan mengekspresikan kesedihan di desa berbeda dengan di kota. Dia merenungi bahwa ketika menginap di desa, setiap interaksi dengan petani dan peternak membuat batinnya dapat segar kembali ketika sampai di Jakarta untuk meneruskan pekerjaan. ”Ini membuat saya merasa tidak tercerabut dari akar hidup saya ketika kecil,” ucap Djarot.

Luangkan waktu kumpul keluarga

Djarot selalu berusaha menyempatkan diri untuk bertemu dengan kedua anaknya yang sudah berkeluarga, walaupun hanya satu-dua jam. Dengan istri dan anak-anaknya, Djarot makan bersama dan berbagi cerita serta keluh-kesah dalam aktivitas masing-masing.

Menurut dia, sebagai orangtua, anak-anak selalu membutuhkan kenangan lama dan mendengarkan gurauan atau lelucon orangtua mereka. ”Anak saya telepon, ingin mengobrol atau ada sesuatu yang ingin disampaikan. Saya bisa sempatkan ke rumahnya setelah pulang kantor,” kata Djarot.

Dia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa kebahagiaan tidak terkait dengan banyaknya materi, namun bagaimana seseorang bisa ikhlas dalam berbagi dan ikhlas dalam menerima. Artinya, kebahagiaan hanya ada di hati dan jangan sampai menukar kebahagiaan hanya untuk uang yang lebih besar. Sebab itu, dirinya tidak pernah masalah ketika anak-anaknya menempuh jalan yang mereka pilih, meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginan orangtua.

Djarot menilai, asalkan anak-anak telah memikirkan sisi positif dan negatif dari jalan yang mereka pilih, dia akan membebaskan mereka untuk mengambil keputusan sendiri. Pasalnya, dia meyakini amanah bahwa anak dan istri hanyalah titipan dari Tuhan.  follow our twitter: @livestockreview

sumber: investor | editor: soegiyono