Begini Resume Korona Covid-19 pada Hewan

Livestockreview.com, Referensi. SARS-CoV-2, sebagai virus penyebab COVID-19 adalah virus single-stranded RNA yang tergolong dalam genus Betacoronavirus. Coronavirus dapat ditemukan di manusia dan hewan, serta beberapa strain CoV tergolong zoonotik. Coronavirus berasal dari Famili Coronaviridae dengan salah satu subfamily yaitu Coronavirinae yang terdiri dari beberapa genus, yaitu alpha, beta, gamma dan delta coronavirus.

Pada manusia, CoV beberapa di antaranya dapat menyebabkan MERS-CoV dan SARS-CoV, virus ini dapat menyebabkan gangguan infeksi pada saluran pernapasan bagian atas dan bersifat relative ringan hingga berat. Pada hewan, CoV dapat menyerang hewan ternak (babi,sapi dan ayam) dan hewan peliharaan (anjing dan kucing), coronavirus yang menyerang hewan berbeda dengan coronavirus yang menyerang pada manusia.

Alpha- dan Betacoronavirus patogenik pada mamalia, sedangkan Gamma- dan Deltacoronavirus biasanya menginfeksi unggas (namun tidak seluruhnya). CoV adalah agen penyebab penyakit, yang berkaitan dengan saluran pernapasan, gastrointestinal, hepatic dan penyakit nerologik baik di manusia dan hewan. Penelitian yang telah dilakukan menemukan bahwa kelelawar dapat berperan sebagai reservoir CoV. Karena potensi mutasi dan rekombinasi, CoV dapat membentuk strain baru dapat terus terbentuk dan menyebar.

Pada Desember 2019, kasus SARS-CoV-2 ditemukan di kota Wuhan, Hubei, China yang menginfeksi saluran pernapasan (pneumonia) pada manusia. Penelitian masih dilakukan berkaitan dengan proses penularan SARS-CoV-2 dan sifat virus yang merupakan penyebab COVID-19 tersebut. Virus ini diduga berasal dari satwa liar (kelelawar).

Berdasarkan CDC dan WHO, penularan terjadi antar sesama manusia melalui droplet oleh orang yang terinfeksi (baik saat
bersin atau batuk) kemudian droplet tersebut masuk ke individu lain. COVID-19 dapat menyebar dengan mudah dan tertanggal 11 Maret 2020, WHO telah menyatakan kejadian pandemic yang disebabkan oleh COVID-19.

Diketahui bahwa baru-baru ini ditemukan adanya kasus hewan yang terinfeksi oleh COVID19 akibat penularan dari manusia. Namun, masih belum ada bukti yang menyatakan bahwa hewan dapat menularkan kembali COVID-19 ke manusia dan masih dalam penelitian lebih lanjut mengenai penularan COVID-19 antar sesama hewan.

Kasus COVID-19 pada hewan

Anjing di Hongkong. Pada 27 Februari 2020, Hongkong’s Agriculture, Fisheries, and Conservation Department (AFCD) melaporkan bahwa sampel yang diambil pada 26 Februari dari kavitas nasalis dan oral seekor anjing Pomeranian berumur 17 tahun yang pemiliknya terdiagnosa positif COVID-19, diketahui bahwa tes menghasilkan positif terhadap SARS-CoV-2 (RRT-PCR) dan negatif terhadap swab rektal dan sampel feses.

Namun, anjing tidak menunjukkan gejala apapun, termasuk pada gangguan saluran pernapasan. Anjing tersebut kemudian dikarantina
dan dilakukan pengecekan sampel secara rutin hingga dinyatakan negatif COVID-19. Setelah anjing dinyatakan negatif, anjing tersebut dikembalikan kepada pemiliknya dan mati 3 hari setelah kembali kepada pemilik. Berdasarkan pengamatan para ahli dinyatakan bahwa, adanya faktor lain yang menyebabkan kematian anjing pomeranian, bukan disebabkan oleh COVID-19.

Pada 18 Maret 2020, AFCD melaporkan bahwa anjing breed German Shepherd berumur 2 tahun dengan pemilik yang terdiagnosa COVID-19, menunjukkan hasil positif terhadap SARS-CoV-2, pemeriksaan dilakukan menggunakan RRT-PCR. Anjing tersebut juga tidak
menunjukkan adanya gejala sakit, termasuk gangguan pernapasan kemudian dilakukan karantina serta pengecekan sampel secara rutin. Anjing tersebut dinyatakan negatif pada tanggal 23 Maret 2020.

Kucing di Belgia. Pada 18 Maret 2020, seekor kucing di Belgia dinyatakan positif SARS-CoV-2 dan diketahui bahwa pemilik kucing ini terdiagnosa positif terhadap COVID-19. Kucing menunjukkan gejala klinis gangguan saluran pernapasan dan pencernaan (muntah, diare dan diikuti adanya batuk), kemudian dilakukan pemeriksaan PCR terhadap sampel feses dan muntahan kucing tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan positif SARS-CoV-2, namun informasi terkait pemeriksaan ini masih diragukan karena belum diketahui secara pasti waktu dan proses pengambilan sampel tersebut.

Kucing di Hongkong. Pada 30 Maret 2020, AFCD kembali melaporkan adanya kucing yang dinyatakan positif SARS-CoV-2. Kucing tersebut tinggal di perumahan yang terdapat individu dengan diagnosa positif COVID-19. Pemeriksaan sampel dari kavitas nasalis, oral dan sampel rektal tersebut menggunakan RRT-PCR. Namun, kucing tidak menunjukkan gejala klinis apapun.

Harimau di New York. Pada 5 April 2020, seekor harimau di kebun binatang Bronx, New York, USA dinyatakan positif terhadap SARS-CoV-2 oleh USDA National Veterinary Services Laboratories. Hal ini diketahui setelah harimau menunjukkan gejala klinis gangguan pada saluran pernapasan.

Harimau diduga tertular oleh staf kebun binatang yang diduga terinfeksi oleh COVID-19 asymptomatik. Harimau tersebut diketahui menunjukkan gejala klinis pertama kali pada 27 Maret lalu. USDA dan CDC melakukan pengawasan terhadap hewan tersebut, serta hewan lainnya di kebun binatang.

Literatur. Beberapa penelitian dilakukan berkaitan dengan SARS-CoV-2 dan kaitannya dengan hewan. Pada 30 Maret 2020, BioRxiv mengeluarkan artikel penelitian preprint mengenai potensi kucing, musang, anjing, dan hewan domestic (babi, ayam dan bebek) terinfeksi SARS-CoV2 dan kemampuannya dalam menularkan virus ke hewan lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi tertinggi ditemukan pada kucing dan musang. Namun artikel penelitian ini masih dalam tahap screening atau peer-reviewed sehingga masih belum bisa digunakan sebagai acuan.

Hal-hal yang disarankan untuk dilakukan pada praktisi hewan selama outbreak COVID-19

  1. Membatasi waktu kerja
    Meski WSAVA telah menyerukan kepada pemerintah dan otoritas veteriner secara global untuk memastikan bahwa rumah sakit dan klinik hewan tergolong dalam usaha penting dan tidak bisa dilakukan penutupan secara menyeluruh agar tetap mendapatkan perawatan selama COVID-19 bagi hewan. Namun, disarankan untuk mengutamakan terhadap kasus-kasus yang mengalami urgensi.
  2. Penggunaan Alat Pelindung Diri
    Kepada seluruh staf diharuskan menggunakan alat pelindung diri selama bekerja. Sesuai dengan protokol otoritas setempat.
  3. Mencuci tangan
    Kepada seluruh staf untuk dapat mencuci tangan secara rutin, baik setelah menangani hewan atau setelah kontak langsung terhadap pemilik hewan serta menghindari atau membatasi menyentuh area mata, hidung dan mulut.
  4. Menjaga jarak
    Selama masa bekerja, menjaga jarak setidaknya 2 meter dengan orang lain dan menghindari salaman atau bersentuhan tangan.
  5. Membuat janji temu terlebih dahulu
    Sebaiknya membuat janji temu untuk penanganan terlebih dahulu (terhadap kasus bukan darurat) yang dapat dilakukan melalui telepon atau pesan teks.
  6. Memberikan informasi terbaru dan edukasi terhadap pemilik hewan.
    Memberikan informasi terbaru dan mengedukasi pemilik hewan terhadap hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan selama masa outbreak COVID-19 ini berlangsung.
  7. Komunikasi terhadap klien
    Melakukan upaya pemberian informasi bagi pemilik hewan (klien) yang akan membawa hewan peliharaan untuk pemeriksaan dipastikan
    berada dalam kondisi sehat, membuat aturan atau batasan terhadap klien yang menunggu baik dalam ruang tunggu serta yang berada dalam ruang periksa.
  8. Desinfeksi area
    Melakukan pemeliharaan terhadap area ruang lingkup kerja, seperti secara rutin membersihkan dan melakukan desinfeksi pada gagang pintu, tempat administrasi serta area umum lainnya.
  9. Menyediakan sabun cuci tangan
    Menyediakan sabun cuci tangan atau hand sanitizer bagi pemilik hewan (klien) yang datang.
  10. Membatasi kontak fisik
    Apabila memungkinkan, membatasi kontak fisik antar staff dan bila diperlukan telah dilakukanpembagian kelompok kerja dalam penanganan hewan sebelumnya.
  11. Work from home
    Memberlakukan kerja dari rumah bagi staff yang tidak diwajibkan untuk berada di tempat kerja secara terus menerus (baik di klinik, rumah sakit hewan, dan sebagainya).
  12. Batasi barang yang berpotensi tersentuh oleh banyak orang
    Memindahkan barang-barang yang berpotensi dapat disentuh oleh banyak pihak, seperti majalah, mainan yang dapat dimainkan oleh anak kecil selama menunggu penanganan pasien, leaflet, dan sebagainya.
  13. Meniadakan waktu berkunjung
    Apabila memungkinkan, meniadakan waktu berkunjung terhadap pasien yang dilakukan rawat inap atau kunjungan yang tidak diperlukan (studi banding, magang, dan sebagainya).
  14. Mengurangi pembayaran secara tunai
    Apabila memungkinkan, mengupayakan untuk melakukan pembayaran dengan menghindari kontak fisik secara langsung.

Hal-hal yang dianjurkan tersebut menyesuaikan dengan kondisi dan status resiko pada masingmasing wilayah dan kebijakan otoritas veteriner daerah setempat

Menjaga kesehatan hewan dan melindungi hewan

Hingga saat ini, infeksi COVID-19 yang menyebar luas pada populasi manusia memiliki resiko potensi menularkan ke hewan dari individu yang terdiagnosa oleh positif COVID-19. Namun, belum ada bukti yang menyatakan bahwa hewan yang terinfeksi dari manusia berperan dalam penularan penyakit yang lebih luas.

Penularan yang terjadi ialah antara manusia ke manusia lainnya. Penelitian lebih lanjut masih dilakukan terhadap SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 baik di hewan ataupun manusia. Kewaspadaan tentu diperlukan bagi banyak pihak dan dokter hewan turut berperan dalam pemberian informasi dan edukasi. Bagi pemilik hewan dengan kondisi sehat dapat melakukan beberapa hal, di antaranya:

  • Menerapkan pola hidup sehat dan kebersihan yang optimal. Membersihkan hewan (utamanya hewan peliharaan) secara rutin dan apabila memungkinkan untuk membersihkan (seperti memandikan hewan) sendiri
  • Mencuci tangan secara rutin setelah kontak langsung dengan hewan, makanan, pakan atau setelah membersihkan kotorannya
  • Melakukan konsultasi secara langsung dengan dokter hewan untuk kesehatan hewan peliharaan masing-masing individu.

Apabila kondisi pemilik hewan dalam keadaan kurang baik, atau hal terburuk yang terjadi ialah terdiagnosa penyakit COVID-19 maka disarankan bagi pemilik hewan terhadap hewan peliharaannya ialah:

  • Membatasi interaksi langsung dengan hewan. Apabila memungkinkan, dapat meminta bantuan orang lain untuk mengurus hewan peliharaan tersebut (anggota keluarga, teman, tetangga, dan lainnya)
  • Menghindari interaksi dengan hewan peliharaan seperti mengelus, meringkuk, dicium atau dijilat serta berbagi makanan
  • Apabila memang mengharuskan untuk mengurus hewan peliharaan ketika sakit, cucilah tangan sebelum dan setelah melakukan interaksi terhadap hewan dan memakai masker. Penerapan kebersihan yang baik wajib dilaksanakan. Disisi lain, hewan dengan pemilik yang terinfeksi oleh COVID-19 disarankan untuk tetap berada di dalam rumah dan membatasi kontak dengan hewan lain.

Resiko penularan yang berasal dari produk asal hewan diketahui belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa produk asal hewan dapat berperan dalam penularan COVID-19. Berdasarkan anjuran yang diberikan oleh WHO, sebagai upaya pencegahan, maka saat mengunjungi pasar hewan, pasar basah atau pasar produk hewan tetap mengutamakan penerapan kebersihan yang harus dijaga. Hal ini termasuk mencuci tangan dengan sabun setelah menyentuh hewan dan produk hewan, juga disertai menghindari menyentuh area mata, hidung atau mulut.

follow our ig: www.instagram.com/livestockreview

editor: sugiyono | sumber: pb pdhi





Spread the love

Leave a Reply