Analisis Strategi Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2014 (Bag IV): Negara yang Kaya Ternak Tidak Akan Pernah Miskin

Livestockreview.com, Kampus. Daging merupakan pangan yang bernilai gizi tinggi penting dalam peningkatan sumber daya manusia. Sub sektor peternakan merukan penyumbang utama untuk penyedia pangan bergizi tinggi seperti daging, telur dan susu. Selain penyedia pangan sub sektor peternakan juga sangat berperan dalam peningkatan lapangan pekerjaan baik di sektor input produksi, budidaya, dan sektor jasa lainnya serta peningkatan pendapatan petani.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar kemandirian pangan menjadi sangat penting. Menurut Yusdja dan Ilham (2006), Industri peternakan yang ketergantungannya tinggi terhadap bahan baku dan teknologi impor memiliki resiko tinggi.

Ketergantungan pangan pada negara lain akan sangat berbahaya bagi kedaulatan bangsa tersebut, oleh karena pentingnya pangan maka negara-negara maju sangat konsen untuk meningkatkan ketahanan pangannya tidak salah kiranya sebuah ungkapan dari preseiden Amerika, Hendry Kissinger yang mengatakan “ control oil and you control the nation, control food and you control the people”. Pepatah Arab juga mengatakan “Negara yang kaya ternak tidak akan pernah miskin, negara yang miskin ternak tidak akan pernah kaya” (Capambel dan Laslai)

Ketergantungan sapi bibit impor untuk meningkatkatkan populasi dalam negeri akan sangat berbahaya ketika permintaan daging semakin meningkat, akibatnya sapi untuk tujuan pembibitan dipotong demi memenuhi permintaan pasar/konsumen. Oleh karena itu ketahanan pangan dan swasembada pangan harus menjadi sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan untuk mempertahankan kehidupan.

Swasembada berarti 100 persen kebutuhan daging sapi dalam negeri dipenuhi oleh produksi ternak dalam negeri. Swasembada daging sapi sudah dicanangkan semenjak tahun 2005 ditargetkan dapat tercapai pada tahun 2010, namun kenyataannya belum dapat tercapai sehingga pemerintah menargetkan kembali swasembada baru tercapai pada tahun 2014. Konsep swasembada daging sapi tentu bukanlah hal yang tidak mungkin dicapai jika ada kesungguhan untuk mebangun agribisnis ternak sapi potong dalam negeri.

Potensi pasar dan sumber daya yang mendukung seharusnya menjadi peluang untuk pengembangan ternak sapi potong dengan keunggulan komparatif dan kompetitif dipasar lokal maupun ekspor. Beberapa kajian yang di review Siregar dan Ilham (2003) menunjukan bahwa usaha peternakan Indonesia memberikan keuntungan dan mempunyai keunggulan komparatif.

Namun bukan tidak ada kesulitan dalam mewujudkan swasembada daging sapi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya pencapaian swasembada : dibagian hulu adalah 1) sebagian besar usaha peternakan adalah petani kecil dengan skala kepemilikan 1-3 ekor yang hanya sebagai tabungan bukan pendapatan utama, 2) Manajemen peternakan masih sangta sederhanan, 3) produktivitas ternak rakyat masih rendah dan 4) manajemen peternakan masih tradisional.

Sedangkan permasalahan hilir adalah 1) pasar yang semakin terbuka sehingga produk/daging impor tidak dapat dihambat kalau tidak ada alasan yang kuat, 2) Belum terintegrasinya kegiatan industri dengan kegiatan penggemukan sapi, bahkan industri cenderung menggunakan produk impor karena mudah didapatkan dan harga yang lebih kompetitif, 3) Preferensi konsumen terutama di restoran daging dan supermarket lebih menyukai daging sapi impor dengan alasan-alasan tertentu. (BERSAMBUNG)

Jusriadi, Mahasiswa Jurusan Ilmu Peternakan, Fakultas Sains & Teknologi UIN Alauddin Makassar 

Finalis pada Call For Policy Paper dalam Temu Ilmiah Mahasiswa Peternakan Indonesia oleh ISMAPETI, di Bengkulu, 7-12 Nopember2013 | editor: sitoresmi fauzi

follow our official twitter: @livestockreview  |  follow our official instagram: livestockreview

Spread the love

Leave a Reply