Akibat Salah Hitung, Indonesia Harus Impor Ratusan Ribu Ton Jagung

Livestockreview.com, Bisnis. Semua berawal dari pengaturan importasi jagung beberapa tahun lalu. Tujuannya mulia, yaitu bisa memaksimalkan tanaman jagung petani untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Tapi kemudian kita lihat ada hal-hal yang tidak terukur, mungkin pendataan kita kurang tersistem dengan baik, sehingga kita terlambat mengukur kekurangan saat masa paceklik. Akhirnya kita baru melakukan pencukupan kebutuhan peternak pada saat-saat akhir,” ujar Musdhalifah Machmud. Pernyataan itu disampaikan sang Deputi Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian dalam diskusi di kantor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Jakarta, Kamis (14/2/2019).

Pernyataan yang membuka tabir alasan di balik impor jagung hingga mencapai 280 ribu ton dari Desember 2018 hingga Januari 2019. Impor yang sampai detik ini juga belum mampu menurunkan harga jagung dan pangkat di tingkat peternak.

Situasi yang memaksa Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita diketahui menetapkan harga khusus daging dan telur ayam yang berdampak pada kenaikan harga pembelian daging dan telur ayam di tingkat peternak (farmgate).

Salinan Surat Menteri Perdagangan No. 82/M-DAG/SD/1/2019 tertanggal 29 Januari 2019 menjelaskan, harga acuan pembelian daging dan telur ayam di tingkat peternak serta harga acuan penjualan di tingkat konsumen sebagaimana diatur dalam Permendag No. 96/2018 berlaku untuk kondisi normal. Di dalam permendag tersebut, harga acuan pembelian daging dan telur ayam ras di tingkat farmgate dipatok Rp 18.000/kg (harga batas bawah) hingga Rp 20.000/kg (harga batas atas).

Adapun pemerintah memandang kenaikan harga jagung dan pakan di tingkat peternak saat ini adalah kondisi yang tidak normal sehingga perlu diterapkan harga khusus untuk menjamin ketersediaan suplai, stabilitas serta kepastian harga daging dan telur ayam hingga Maret 2019.

Untuk itu, Mendag menetapkan harga khusus pembelian daging dan telur ayam ras di tingkat farmgate seharga Rp 20.000/kg (harga batas bawah) hingga Rp 22.000/kg (harga batas atas). Sementara itu, harga khusus penjualan daging ayam ras kepada konsumen ditetapkan seharga Rp 36.000/kg dan telur ayam ras seharga Rp 25.000/kg.

Sehari sebelum Surat Menteri Perdagangan itu terbit, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution membenarkan adanya tambahan impor jagung untuk pakan ternak sebanyak 150.000 ton. Dengan demikian total impor mencapai 280 ribu ton.

Darmin menjelaskan, pemerintah memutuskan membuka kembali keran impor jagung. Ini karena fakta di lapangan menunjukkan harga jagung di tingkat peternak belum turun.

“Ya, betul. Karena harganya belum turun, padahal yang diimpor sebelumnya sudah habis,” ujarnya di kantornya, Senin (28/1/2019) malam.

Sehari berselang, Darmin membantah jika pemerintah disebut mengimpor jagung berkali-kali.

“Jangan berkali-kalinya dong. Kenapa perlu? Gitu aja,” katanya.

Darmin mengatakan, selepas impor perdana sebanyak 100 ribu ton, permintaan dari peternak petelor maupun pedaging hingga pedagang masih tinggi. Di sisi lain, panen dari sentra produksi seperti Jawa Barat, juga belum ada.

“Paling-paling panennya itu Maret pertengahan. Jatim (Jawa Timur) malah April. Padahal permintaan-permintaan dari peternak kecil-menengah baik petelor atau daging itu masuk terus ke Bulog,” ujar Darmin.

“Sehingga waktu Kamis itu bahkan impor yang 30 ribu ton kemudian yang sudah jalan itu sudah habis karena permintaan lebih baik. Sehingga bulog mengatakan, panennya belum ada di Jatim. Maka kemudian hasil diskusi ini harus ditambah,” lanjutnya.

Ia menekankan, jagung impor harus masuk pada Maret 2019. Jangan sampai jagung impor mengganggu panen raya di sentra-sentra produksi. Oleh karena itu, Darmin menyebut pemerintah memberikan plafon kepada Bulog.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunggah data yang menunjukkan produktivitas jagung di tanah air meningkat. Sepanjang 2014-2018, menurut Jokowi, impor jagung telah turun tajam dari 3,6 juta ton menjadi hanya 180 ribu ton.

“Impor berkurang hampir 3,4 juta ton!” kata Jokowi.

Menurutnya, keberhasilan menurunkan impor jagung ini antara lain berkat penyuluh pertanian yang mampu membantu para petani meningkatkan hasil pertanian.

sumber: cnbc | editor: handi

Follow our Instagram & Twitter: @livestockreview

Spread the love

Leave a Reply